RM HARUTOMO
(28 Februari 1949 - 08 Agustus 2021)
ADA LUKA yang tak pernah sepenuhnya sembuh ketika seorang kakak kandung mendahului berpulang. Bagi saya, kehilangan RM Harutomo, di Facebook namanya Herutomo, bukan hanya kehilangan seorang kakak kandung, tapi juga kehilangan seorang sahabat, kawan seperjalanan, sesama pekerja di jalan kebudayaan dan kemanusiaan.
Kami tumbuh dari rahim yang sama, dari keluarga yang belajar hidup dengan kerja keras. Sejak kecil, kami tahu bahwa hidup tidak akan mudah. Justru karena itu, kami ditempa oleh kerja keras, kesederhanaan dan perjuangan hidup. Mas Haru memilih jalan seni. Pelukis dan patung menjadi medan ekspresinya. Namun lebih dari itu, ia adalah seorang aktivis yang mempercayai seni harus berpihak. Seni harus hadir di tengah kehidupan, bukan sekedar menghias dinding atau ruang pameran.
Bersamanya, di Madiun,kami mendirikan LSM Abimantrana, 2020,disupport Ibu Negara Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Kebetulan saya kenal dekat dengan Ibu Sinta. Bersama pula kami membangun Monumen Gembok Kejujuran di Kota dan Kabupaten Madiun—sebuah penanda moral, ajakan bagi masyarakat untuk berani berkata tidak pada korupsi. Saat monumen itu diresmikan oleh KPK, saya tahu, karya itu bukan sekedar tugu, melainkan suara nurani yang dibangkitkan oleh idealisme.
Mas Haru juga merintis Dungus Forest Park, sebuah ruang hijau yang ia harapkan menjadi warisan untuk generasi berikutnya. Agar anak cucu kami tahu bahwa hutan bukan untuk ditebang, melainkan dirawat.
Dalam setiap kerja bersama itu, Mas Haru selalu hadir dengan ketulusan. Ia bukan hanya kakak, melainkan penggerak. Ia menyalakan api, memberi arah, menjadi penopang ketika saya goyah. Ia bisa marah, bisa keras kepala, tapi di balik itu ada hati yang begitu lembut, ada kasih seorang kakak yang tidak pernah habis untuk adiknya.
Ketika Covid-19 merenggutnya, 2021, saya merasa dunia runtuh dalam sekejap. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada kesempatan terakhir untuk berkata: "Terima kasih, Mas, untuk semua yang telah kita lalui bersama." Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Saya sangat kehilangan bukan hanya karena kami satu darah, melainkan karena jiwa kami sudah lama terikat persahabatan dan kasih sayang yang kuat dan tulus.
Kini, setiap kali saya melihat Monumen Gembok Kejujuran, atau melintasi Dungus Forest Park, saya merasakan kehadiran Mas Haru. Ia ada pada setiap daun yang bergetar, dalam setiap gembok yang berkilat diterpa cahaya, di setiap langkah anak-anak yang berlari di jalan tanah hutan Dungus Forest Park. Warisan Mas Haru bukan hanya karya seni, bukan hanya monumen, melainkan teladan tentang hidup yang jujur, berani, tulus, dan setia pada nilai.
Saya menulis ini dengan hati yang masih digenangi kesedihan. Saya tahu, duka bukan hanya tentang kehilangan, melainkan tentang mengenang dengan cinta. Mas Haru akan selalu hidup dalam ingatan saya, dalam darah yang mengalir di tubuh kami, dalam setiap langkah dan kerja keras yang terus saya jalani.
Selamat jalan, Mas. Persaudaraan, persahabatan dan kasih sayang kita takkan pernah selesai. ***
Hartjah
03102025