KAMI YANG KINI TERBARING ANTARA KARAWANG – BEKASI
Oleh: Th. Sumartana
(Kompas, 10 November 1980)
Chairil Anwar, penyair eksponen Angkatan '45, menyadur sajak Archibald MacLeish "The young dead soldiers" menjadi "Karawang - Bekasi". Sampai dua kali sajak tersebut dimuat di Mimbar Indonesia. Dalam edisi November 1949 ia dimuat khusus untuk memperingati Hari Pahlawan. Sajak yang bagus itu cepat tersebar dan menjadi terkenal, meski untuk beberapa waktu tak setenar kedudukannya sebagai sajak saduran.
Limatahun kemudian sesudah sang penyair meninggal, baru diketahui bahwa sajak tersebut "cuma" karya saduran. HB Jassin memberikan apologi terhadap “kenakalan” Chairil yang mencuri sajak orang lain, dengan mengakui bahwa mungkin pembelaannya berbau prosais. Ia mengatakan bahwa andaikata sajak tersebut diserahkan kepada majalah sebagai sajak terjemahan, maka ia tak akan diterima. Atau kalaupun diterima, lama baru dimuat dan honorariumnya pun kurang dari honorarium sajak asli.
Jassin mengajak kita untuk memahami bahwa penyair begitu memerlukan uang untuk pengobatan penyakitnya (HB. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, Gunung Agung, cet. I th. 1956).
Peristiwa tersebut di atas perlu kita renungkan sebagai latar belakang untuk menyelami tema kepahlawanan, yang justru menjadi inti perenungan Chairil. Ia seolah-olah memuat sebuah paradoks, paling tidak secara moral. Sang penyair seolah-olah mulai dengan menipu redaktur Mimbar Indonesia (dan kemudian sampai tahun 1954 kita juga ikut tertipu).
Andaikata sajak tersebut bertemakan "cinta" atau hal-hal lain yang sifatnya personal, mungkin tak akan banyak menggugah persoalan. Tapi ketika sajak itu merupakan sajak yang amat sublim tentang kepahlawanan, maka mau tak mau kita diajak untuk berfikir dua kali.
Lepas dari apologi Jassin (betapapun sahnya ia), kita melihat jarak yang membentang antara "kenakalan" Chairil dengan tema kepahlawanan yang dituliskannya. Jarak tersebut mungkin merupakan jarak "revolusi", yaitu suasana kemasyarakatan yang ia hidupi, bahkan dalam banyak hal ia pelopori. Yaitu jarak yang menganga, berhubung dengan keadaan yang serba mendesak, serba menggebrak, serba tak teratur saat itu. Dan alasan yang diberikan oleh Jassin di belakang hari tentang kesakitan Chairil, pada dasarnya juga merupakan alasan yang "revolusioner". Yaitu lebih menekan segi urgensi dari penderitaan sang penyair yang lagi gawat sakit. Ia harus segera diobati.
"Menipu" untuk kesembuhan yang tak bisa ditunda, adalah sah. Urgensi uang obat inipun mungkin bagi kebanyakan kita sah. Andaikata Jassin memakai alasan lain, mungkin kita menolaknya. Moral penerimaan kita terhadap "penipuan" Chairil, pada dasarnya juga merupakan moral kita untuk menerima revolusi. Setiap revolusi pada dasarnya merupakan suatu cara bagi suatu masyarakat di suatu zaman untuk mencari kesembuhan bagi penyakit yang dideritanya. Moral ini pula yang menjadi dasar pengesahan untuk menerima apa saja yang terjadi di masa revolusi fisik di sekitar tahun 1945, termasuk pembunuhan antar-manusia yang paling brutal sekalipun.
Di fihak lain penerimaan kita terhadap "penipuan" Chairil samasekali tak mengurangi keikutsertaan kita untuk merenungkan tema kepahlawanan dari sajak saduran itu. Di sepanjang baris-baris sajak kita tetap bertemu dengan tokoh pahlawan yang sebenarnya. Yaitu pahlawan yang menyadari jarak antara yang ada dan yang tiada, jarak antara manusia dan kebenaran, jarak yang hendak ditempuh dengan nyawanya sendiri. Kepahlawanan yang diletakkan dalam garis batas antara kenyataan dan impian. Seperti tulis Chairil: Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian. Di situlah pahlawan muncul dalam sosok yang amat terang.
Antara Karawang – Bekasi
Ketika sudah tiba masanya, maka kemerdekaan pun diproklamasikan. Enam minggu kemudian tentara Sekutu tiba di Jakarta untuk mengurus pemulangan tentara Jepang yang telah mereka kalahkan, sambil menjaga ketertiban dan keamanan Indonesia. Mereka segera mendesak, agar anasir pemuda dan para pejuang bersenjata disingkirkan ke luar kota. Maka para pemuda militan pun menyingkir ke luar kota, antara lain ke Bekasi, Tanggerang, Bogor sampai ke Karawang. Di sanalah mereka mengadakan perlawanan bersenjata terhadap musuh, dengan gelisah mereka meneriakkan kemerdekaan.
Sementara itu bentrokan fisik dengan fihak Jepang sudah mulai di Surabaya. Tanggal 19 September 1945 meletus peristiwa yang terkenal dengan “insiden Hotel Yamato" di Tunjungan. Yaitu ketika para pemuda merobek bagian biru dari bendera Belanda yang berkibar di hotel itu. Sehari kemudian terjadi arak-arakan besar di lapangan Tambaksari. Peristiwa-peristiwa kekerasan selanjutnya mengembang di hampir setiap kota di pulau Jawa. Bulan Oktober dan November terjadi banyak kontak senjata antara para pemuda dan laskar rakyat dengan tentara Sekutu. Di bulan November tanggal 4, Brigadir Mallaby terbunuh di Surabaya. Dan Mansergh penggantinya membalas dengan membabibuta, menghantam para pemudi dengan senapan-mesin, tank, pesawat terbang, meriam yang menjatuhkan banyak korban. Hari itu 10 November kemudian kita peringati sebagai hari Pahlawan Nasional.
Peristiwa di Bkasi hampir sama kejadiannya. Bulan November bertanggal 23 ada pesawat Inggris jatuh di sana. Tiga minggu berikutnya, yaitu tanggal 13 Desember 1945, merangsaklah serangan tentara Inggris baik daratan maupun dari bawah yang menewaskan banyak orang di Bekasi. Dikabarkan, 600 rumah hancur terbakar. (B.R.O.'G Anderson Java in a time of revolution, CP, 1972, hal. 297). Chairil Anwar alam sajaknya minta agar kita memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa di sana.
Kepahlawanan sebagai kebutuhan spiritual
Kebutuhan untuk memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa bukanlah untuk kepentingan mereka yang sudah tak bernyawa. Sosok pahlawan yang ditampilkan oleh Chairil bahkan berkata:
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan dan
harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu,......
Kepahlawanan adalah tonggak-tonggak sejarah yang memberikan bekal spiritual bagi suatu bangsa untuk menempuh tantangan masa-depan. Sebab itu nilai-nilai kepahlawanan terpancang tidak hanya dalam suatu periode tertentu dalam kehidupan sesuatu bangsa. Lebih banyak sesuatu bangsa memiliki pahlawan, lebih banyak pula kekuatan spiritual yang bisa ditimbanya. Pahlawan memberikan ilham yang tak bisa diganti dengan ajaran-ajaran verbal atau indoktrinasi macam apapun. Sebab inti tindak kepahlawanan adalah teladan dan bukannya sekedar kata-kata. Semakin jauh suatu bangsa dari para pahlawannya, semakin ia akan tampil sebagai bangsa yang tanpa identitas. Sebab pahlawan dari suatu bangsa adalah identitas bangsa itu sendiri.
Dewasa ini kita melihat kecenderungan hampir di segala tempat untuk membangun serba aneka monumen kepahlawanan. Di hampir setiap kota dibangun tugu atau patung-patung yang melambangkan kepahlawanan. Telah banyak pula ditulis memoar yang juga disuguhkan sebagai semacam monumen, yang menggambarkan kepahlawanan dari sudut pengalaman pribadi tokoh-tokoh tertentu. Pendekatan reflektif semacam itu tentu memberikan suatu sugesti, agar setiap renungan mengenai peristiwa-peristiwa besar yang menentukan kehidupan bangsa, dikaitkan ke masa-depan. Seolah-olah memoar-memoar tersebut dilakukan dengan cara "pulang-balik" mengarungi masa yang sedang terjadi dengan kegelisahan melihat ke depan.
Kepahlawanan di masa sekarang
Berbicara mengenai pahlawan di zaman sekarang bukanlah untuk mencari siapa-siapa diantara kita yang pantas disebut pahlawan. Pahlawan tidak menyebut dirinya sendiri, sejarah yang akan menyebutnya. Kita hanya bisa menyebutkan lambang-lambang hidup yang mengesankan ciri-ciri kepahlawanan. Keadaan di tengah-tengah kita dengan zaman sebelum merdeka telah berubah banyak dibanding dengan zaman sebelum merdeka. Tapi perubahan dalam arti perubahan nasib, sebagaimana dikandung oleh semangat kemerdekaan, belum banyak dialami oleh kebanyakan rakyat.
Masih banyak diantara bangsa kita yang hidup sama seperti sebelum merdeka. Lambang- lambang kota sebagaimana yang disebut oleh Chairil dalam sajaknya, tetap merupakan lambang dari keterbelakangan yang mengharukan.
Di Bekasi kita baru saja mendengar kasus tentang dua orang bernama Sengkon dan Karta yang meringkuk di penjara tanpa salah apa-apa. Beberapa waktu yang lalu pula kita mendengar tentang menu enceng gondok, yang menjadi makanan populer penduduk di wilayah Karawang.
Adalah semacam ironi bahwa Karawang - Bekasi yang memunculkan banyak cerita kepahlawanan dari tahun ke tahun, penduduknya yang kebanyakan petani itu tetap harus menjadi pahlawan. Keharusan yang tanpa nilai sejarah. Dan ciri-ciri kepahlawanan mereka yang setiap hari membanting tulang untuk sesuap nasi, sering sudah dilecehkan. Di antara Karawang - Bekasi korban-korban masih berjatuhan, entah untuk apa atau untuk siapa.
T.B. Simatupang, penulis buku "Laporan dari Banaran", dalam epilognya berbicara lagi tentang desa Banaran yang dikunjungi nya, setelah kira-kira 30 tahun berlalu. Ia menulis: Seolah-olah di sini sang waktu berhenti selama tigapuluh tahun yang lalu.
Selanjutnya ia katakan: Ada semacam ironi dalam hidup rakyat di tempat-tempat seperti Banaran ini. Tempat-tempat itu dahulu telah dijadikan pangkalan gerilya... yang dahulu paling banyak berkorban untuk perjuangan, sering adalah tempat-tempat yang sekarang ini paling sedikit memperoleh manfaat dari pembangunan. (TB. Simatupang, Laporan Dari Banaran, Sinar Harapan 1980, hal 249). Keluhan-keluhan semacam itu seolah-olah mengajak kita kembali untuk merenungkan arti kepahlawanan di zaman pembangunan ini.
Dan patung Jendral Sudirman yang bermantel tebal dan bertelekan pada tongkatnya yang kokoh, tetap berdiri di pusat keramaian kota Yogya. Tubuhnya yang kurus tak bisa disembunyikan, matanya yang redup dan wajahnya yang melankolik tetap merupakan lambang dari kepahlawanan yang menderita tapi tabah. Ia berdiri di sana seolah-olah merupakan simbol dari kehadiran seorang pahlawan bangsa, di Malioboro, di pusat kesibukan perbelanjaan. Adakah ia berdiri di sana sebagai lambang tentang kontras antara nilai-nilai kepahlawanan dengan nilai-nilai pembangunan sekarang ini? Kaulah sekarang yang berkata, usik Chairil dalam sajaknya.
Sumber: Kompas, 10 November 1980

KAMI YANG KINI TERBARING ANTARA KARAWANG – BEKASI Oleh: Th. Sumartana
Subscribe to Literanesia
Get the latest posts delivered right to your inbox