KKcrayfish Phing
Jati Diri Mr. Anu
Si Anu adalah potret pengangguran karatan yang menghabiskan sisa hidupnya di bangku warung. Kerjanya hanya bengong, menyeruput kopi, lalu mengunyah gosip murahan. Matanya lekat ke layar ponsel, pindah dari YouTube ke Facebook sampai jemu sendiri. Ia iri melihat orang punya banyak pengikut, sementara ia bingung mau mengunggah konten apa. Mau jual tampang pun ia sadar diri, badannya begeng sekaligus kerempeng. Bukan seperti para pemamer sensasi yang menjadikan tubuh sebagai etalase, membuka sana sini, merobek sini situ, demi menadah perhatian. Dalam keputusasaan yang dungu itu, ia cuma bisa memeluk ponsel sambil berkhayal jadi orang tersohor.
Sastrawan Karbitan dan Diplomasi Kopi Panas
Nasibnya sedikit berubah saat ia bertemu asisten digital. Awalnya, konten yang ia unggah tidak ada yang melirik. Boro boro disukai, ditengok pun tidak. Penonton zaman sekarang maunya yang heboh, tapi nyalinya ciut kalau harus lompat dari gedung tinggi. Mau bikin konten petualangan pun ia tidak punya modal buat beli kamera bagus atau bayar tim penyunting. Lalu ia melihat ada penyair yang banyak disukai orang. Modal nekat, ia memerintah asistennya membuat puisi bagus, katanya, dengan gaya iklan jamu yang sudah teruji khasiatnya.
Dalam sekejap puisi itu jadi dan langsung ia unggah ke internet. Ajaib, gerombolan yang mengaku komunitas sastrawan malah memuji habis habisan. Anu pun merasa punya bakat dewa. Dalam semalam lahirlah “sastrawan” dan “filsuf” baru. Tinggal masukkan data, kalau mau ijazah penyair angkatan tahun berapa pun, bisa. Sekarang ia sudah jadi penyair dan filsuf kaliber dunia tanpa perlu sekolah sastra atau repot belajar bahasa. Cukup siapkan pulsa, asisten pintarnya siap memasok kutipan: Heidegger, Kant, sampai Rumi. Ia hidup dalam mimpi indah, merasa sudah punya profesi yang dihormati.
Waktu bertemu sesama penyair dan filsuf, mereka ternyata langsung akrab. Tidak ada yang saling merendahkan, karena memang mereka semua satu spesies. Mereka adalah penyair lulusan semalam, ijazahnya dilantik oleh uap kopi panas dan kokok ayam subuh. Dunia digital tidak pernah menolak sampah semacam ini. Selama berani berteriak paling kencang, Mbah Google pasti memberi panggung. Dalam hitungan bulan, nama si Anu makin kinclong, dan tak ada lagi yang berani mendebat status “seniman”nya.
Tragedi Filsafat Es Doger
Puncak kekonyolan itu terjadi saat ia diundang ke sebuah seminar, dengan gaya seniman tingkat dewa. Kepalanya mendongak tinggi ke langit, seperti orang sedang main layangan. Seorang pakar sungguhan menghampiri dan memuji tulisan Anu yang penuh kutipan filsuf kelas berat, dari Sartre sampai Plato. Pakar itu lalu bertanya tentang gagasan Heidegger yang pernah ditulis Anu.
Si Anu mendadak buntu, karena ia lupa bertanya pada asistennya tentang rincian karya itu. Ia tidak paham bahwa Heidegger punya korpus tulisan kira kira puluhan ribu halaman. Dalam otaknya yang sempit, ia mengira Heidegger cuma satu buku tipis yang sudah tamat ia “baca” lewat potongan kutipan. Ia merasa paling pintar di ruangan itu, padahal hanya pandai mencatut nama orang besar.
Karena malu harus mengais jawaban di ponsel di tengah keramaian, ia terpaksa menjawab dengan muka tenang yang dipaksakan. Dengan nada kalem, ia berkata, “Kalau soal es doger, saya sudah baca semua. Di situ dijelaskan cara bikin es yang enak.”
Itulah akhir kepalsuan seorang “sastrawan” dan “filsuf” yang mengira karya bisa diracik secepat menyeduh kopi sachet.