DJATMIKO
25 Juli - 20 Oktober 2025
SAYA tidak akan mungkin menulis kenangan bersama Mas Djatmiko Djat secara sempurna. Mendengar Mas Djat wafat pagi ini, 20 Oktober 2025, saya menangis dalam diam. Kesedihan sepenuhnya menenggelamkan hari-hari yang saya jalani bersamanya. Saya bukan hanya mengasihi, melainkan sangat dan sangat menghormatinya.
Ketika di Puri Mutiara, Cipete, Jakarta Selatan, Mas Djat yang selalu membesarkan hati dan semangat saya. Kemiskinan, penderitaan, rasa lapar dan mulut asam rindu merokok, diselesaikan Mas Djat secara jenaka. Sayur asem direvisi jadi sayur lodeh. Melukis wayang Hanoman yang punggungnya merah bergaris seperti habis kerokan. Menimba air sumur dan mengisi bak mandi sangat besar itu agar rasa lapar dikalahkan kecapekan.
Mas Djat, sesepuh Sanggar Garajas Bulungan, lelaki yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah membicarakan orang lain kecuali kebaikannya. Ia sabar menghadapi siapa pun, dari yang memuji sampai yang mencibir. Ia sabar menghadapi waktu, bahkan sabar menghadapi nasib yang kadang tak berpihak. Ia sabar dan bertahan, bentuk perlawanannya terhadap kenyataan macam apapun.
Saya rasa, Mas Djat tidak melukis dengan ambisi. Ia bisa dengan santai menerima order mengerjakan spanduk, serius disablon tangan, ditotol busa dan cat tembok. Ia mengambil pekerjaan membuat maket bermacam benda, mengiris styro foam, dan mengecatnya dengan kuas lukis. Saya terkadang membantunya, supaya bisa ikut merokok Djarum 76 miliknya.
Kemudian saya menikah, tinggal di kontrakan tanpa listrik di sebelah kontrakan Mas Djat yang juga tanpa listrik. Mas Djat sering menggendong anak saya. Ikut membuatkan ayunan dari ban mobil bekas, digantung mepet di samping rumahnya. Kemiskinan, saya rasa, bukan penderitaan yang menyakitkan. Saya dan Mas Djat mengalaminya, menjalaninya, dengan optimisme, kegembiraan dan upaya-upaya berunding dengan nasib. Saya dan Mas Djat pernah bertarung dan menjinakkan kemiskinan. Kemudian Mas Djat menikah.
Kami pindah rumah. Saya di Petukangan Utara dan Mas Djat tinggal di Bintaro, kemudian bersama Mbak Yana, istrinya, pindah ke Maja, Serang. Saya dan teman-teman pernah ke Maja. Rumah Mas Djat luas. Ada pohon rambutan, sawo, kecapi, jambu, petai dan kolam ikan. Mas Djat tertawa ketika saya mencium tangannya. Tapi, saya benar-benar menghormatinya.
Saya tahu, ini bukan obituari yang memadai untuk mengenang Mas Djat. Mungkin karena saya terbawa kesedihan Mas Djat berpulang. Mas Djat bukan sekadar sahabat. Ia adalah penjaga kesabaran, pelindung dari kegelisahan, pengingat bahwa seni sejati lahir dari ketulusan, bukan dari tepuk tangan. Selamat jalan, Mas Djat. Terima kasih telah meninggalkan jejak yang indah, kesabaran yang mengagumkan, dan optimisme yang terus menyala dalam hidup ini. ***
Hartjah
20102025