Marlin Dinamikanto
BUDIDAYA KESENIAN
akankah kami harus lempar handuk
biar ikut kecipratan
rejeki tak seberapa
dari pagu anggaran
budidaya kesenian yang sebenarnya
tidak besar-besar amat
tapi bisa bahagiakan birokrat
yang seolah sedang merawat
tapi sebenarnya sedang beternak
kesenian yang sedang kami panggul
untuk keadaban dunia
tapi pada akhirnya
sebagian dari kami yang sudah lelah
membiarkan jiwa meleleh
hidung dibrongsang seperti sapi
menarik gerobak sirkus
biar kesenian tampak abadi
tapi arahnya sudah dibajak
ikut kehendak kalian
yang dikerumuni para belantik
berjas kurator hebat
oh, tidak
kami bukan binatang ternak
yang kalian kandangkan
ke sejumlah komunitas
yang kalian paksa main badut
dengan cipratan rejeki tak seberapa
agar kesenian pura-pura masih ada
tapi jiwa sudah sirna
diterkam hidup yang merana
tidak, kami harus lawan
korupsi yang sudah sangat berlebihan
di kepala kalian hai birokrat kesenian
yang kata Bung Rocky
otaknya kecil
sehingga seni menjadi kerdil
kami dipaksa lempar handuk
kepada kalian hai penguasa anggaran
yang pandai budidaya
dengan cara memiskinkan kami
tidak, biarpun miskin
kami tidak akan pernah sowan
bertekuk lutut kepada kalian
yang hanya pandai menghitung
berapa biaya pakan biaya perawatan
biaya operasional
yang tidak boleh menggilas laba
agar kalian hidup berlimpah harta
sudah itu kalian merasa berjasa
kesenian masih ada
meskipun jiwanya sudah sirna
yang penting terlihat meriah
tak peduli hasil budidaya
yang kalian ransum
dengan ciprat rejeki ala kadarnya
sudah itu kami dipaksa joget-joget
seperti badut di lampu merah
Pegangsaan, 22 Januari 2026