**TEGUH ESHA. **
(8 Mei 1947 - 17 Mei 2021)
SETIAP ORANG tentu punya pintu pertama yang membawanya ke sebuah dunia baru. Bagi saya, salah satunya adalah Mas Teguh Esha. Nama yang lekat dengan novel legendaris Ali Topan Anak Jalanan. Tapi, bagi saya, ia lebih dari sekadar pengarang. Ia adalah sahabat sekaligus guru awal yang membuka jalan saya menjadi wartawan, di majalah Sonata..
Saya pertama kali berjumpa dengannya pada 1979. Saat itu, saya masih muda, 25 tahun, masih mencari pijakan antara dunia seni, sastra, dan kehidupan nyata yang keras. Mas Teguh Esha hadir dengan gaya khasnya: santai, jenaka, semau gue. Ia tidak banyak bicara soal teori, tapi cara hidupnya sendiri adalah pelajaran. Ia melihat sesuatu dalam diri saya, lalu dengan enteng tapi serius berkata bahwa saya harus mencoba dunia wartawan. Dan dari ajakannya itulah saya menapaki jalur baru, menulis berita, menyelami realitas, bertemu orang-orang, dan belajar memahami denyut zaman.
Mas Teguh bukan tipe yang menggurui. Ia membimbing dengan cara memberi ruang. Kadang dengan lelucon, kadang dengan kritik tajam yang membuat kita terdiam sejenak, tapi setelahnya tersenyum karena sadar ia benar. Dari Mas Teguh saya belajar bahwa menulis, baik berita maupun fiksi, menuntut kejujuran. Bukan hanya jujur pada fakta, tapi juga pada suara hati.
Kini, ketika saya mengenangnya, saya teringat sosok yang tidak hanya melahirkan Ali Topan—tokoh liar, romantis, sekaligus gelisah—tapi juga melahirkan semangat pada banyak orang di sekitarnya untuk berani menulis dan berkata. Ia menunjukkan bahwa sastra bisa bicara tentang jalanan, tentang anak muda, tentang pemberontakan, tanpa kehilangan keindahan bahasa.
Mas Teguh yang memperkenalkann saya dengan Yon Koeswoyo dan Masheri Mansyur. Lalu saya menggarap album solo Yon Koeswoyo berjudul Lantaran. Kemudian lagu-lagu lainnya.
Kereta kematian akhirnya menjemput Mas Teguh Esha. Kereta itu datang lebih dulu untuknya. Tapi persahabatan membuat saya merasa ia tidak pernah benar-benar pergi. Setiap kali saya menulis, saya seakan mendengar gema pertemuan pertama kami di 1979, di
warung kopi Blok M, Jakarta Selatan, ketika ia mendorong saya masuk ke dunia jurnalistik.
Setiap kali saya mengingat Ali Topan, saya tersenyum—sebab di balik tokoh itu, ada sahabat yang pernah membuka jalan hidup saya.
Persahabatan dengan Mas Teguh Esha mengajarkan saya arti keberanian. Bahwa menulis adalah cara menantang dunia, dan bahwa hidup adalah perjalanan untuk mencari kebenaran dengan gaya kita sendiri. Ia meninggalkan jejak yang tak akan hilang: pada sastra populer Indonesia, pada generasi muda yang membaca karyanya, dan pada diri saya, sahabatnya, yang masih menyimpan rasa syukur karena pernah diajaknya berjalan di jalan kata-kata.
Dan di ruang tunggu kehidupan ini, saya sering merasa bahwa sebagian dari langkah saya masih dituntun oleh ajakan pertamanya--menulis, jadi wartawan. Itulah warisan Mas Teguh Esha untuk saya. Sebuah warisan yang tidak akan lapuk dimakan waktu.
Hartjah
04102025