**YON KOESWOYO. **
(27 September 1940-5 Januari 2018)

ADA PERSAHABATAN yang lahir begitu saja, tanpa perlu kontrak atau kesepakatan. Ia tumbuh dari pertemuan, dari getar musik, dari rasa yang sama-sama dipercayai. Persahabatan saya dengan almarhum Mas Yon Koeswoyo adalah salah satunya.
Bagi banyak orang, Mas Yon adalah suara Koes Plus tak tergantikan. Ikon pop legendaris Indonesia. Tapi, bagi saya, ia juga seorang sahabat yang tulus, hangat, dan sederhana. Kami pernah berjalan seiring dalam musik. Saya menulis lagu untuknya, album Lantaran, lagu Song of Porong dan Indahnya Kasih. Lagu-lagu itu lahir bukan hanya karena kebutuhan artistik, melainkan juga karena ada ruang yang ingin saya bagi dengannya. Dan Mas Yon, dengan suaranya yang khas, menjadikan lagu-lagu itu bukan sekadar bunyi, melainkan doa yang bernyanyi.
Saya, disponsori Pak Laksamana Sukardi, pernah mengajak Mas Yon dan Koes Plus syuting klip video di Porong, Sidoarjo untuk lagu Song of Porong. Di tengah desa yang sedang ditenggelamkan lumpur Lapindo. Kemudian bersama Mas Ais Suhana bikin klip video lagu Indahnya Kasih dengan Mas Yon dan Koes Plus.
Namun, persahabatan sejati bukan hanya tentang karya. Ia diuji dalam momen-momen kecil yang meninggalkan bekas panjang. Saya masih ingat, ketika Ibu saya sakit di Madiun, 1982. Mas Yon datang menjenguk. Bagi seorang musisi besar, mungkin tak ada kewajiban untuk menempuh perjalanan jauh hanya demi seorang ibu sahabatnya. Mas Yon naik mobil dari Jakarta, disopiri Mas Topo. Mas Yon datang dengan senyum ramah dan perhatian yang tulus. Ia duduk di samping ranjang Ibu, menanyakan kabar, seolah lbu saya adalah lbunya sendiri. Saat itu saya mengerti, bahwa di balik panggung megah dan sorotan lampu, Mas Yon adalah manusia yang penuh kasih.
Persahabatan kami adalah persilangan antara musik dan kemanusiaan. Dari Mas Yon, saya belajar bahwa popularitas tidak pernah lebih tinggi daripada kepedulian. Bahwa cinta kasih selalu lebih abadi daripada sekadar hit lagu. Kini, setelah ia tiada, saya sering mendengar kembali suaranya di dalam hati—suara yang ringan tapi dalam, sederhana tapi menyentuh.
Mungkin begitulah cara Tuhan memberi tanda: lewat seorang sahabat, diajak untuk mengingat bahwa hidup ini singkat, dan yang paling berharga adalah perhatian yang kita sisakan untuk orang lain. Mas Yon telah menorehkan itu dalam hidup saya—dengan lagu, dengan tawa, dengan kunjungan ke rumah ibu saya di Madiun.
Hari ini, ketika saya menuliskan kenangan ini, saya merasa bersyukur. Karena saya pernah berjalan seiring dengan seorang Yon Koeswoyo. Karena saya pernah menyaksikan bahwa kasih sayang tidak mengenal panggung, tidak mengenal batas, dan akan terus hidup bahkan setelah kepergiannya.***
Hartjah
05102025