Marlin Dinamikanto
PANTAI KARANGSONG

di pantai ini
berserak air mata menggenang
gubuk-gubuk tua yang reyot
kesiur angin dan tangis bayi
saling bertindih. Lapar tak perlu diucapkan
dari tirai jendela berdebu
wajah bupati datang silih berganti
tapi kami masih di sini
bertarung melawan kecemasan
datang berulang
seperti air galon yang kadang
kami dapatkan dengan cara berutang
dengan jaminan ombak yang terus
bergolak bersama angin kencang
tiga hari ini. Kami terus di sini
di kampung yang disenyapkan oleh sunyi
setelah tangis bayi tak terdengar lagi
haus dan lapar pantang diucapkan
tak ada ikan kerang pun jadi
kami hanya merayap di tepian
menunggu ombak surut
angin landai yang membelai harapan
di sana banyak ikan. Berkah berlimpah
di ujung cakrawala
ikan berloncatan merajut mimpi
jala usang yang terus kami perbaiki
sejak pagi hingga petang nanti
semoga kapal kecil ini berangkat
jemput rejeki yang tersimpan
di antara debur ombak
selalu ada kecipak
kemenangan kecil saat kapal bersandar
dermaga tempat keluarga kami
menunggu dengan hati berdebar
Proklamasi, 21 Juli 2025