Asro al Murthawy

PEREMPUAN YANG MENUNGGU

Di bibir dermaga perempuan dengan mata seluas gelombang,
menyulam angin menunggu lelaki yang hilang
mengabut di tikungan badai.

Tangannya dingin memeluk doa
seperti kain basah membalut luka
Ia pandangi ujung lautan,
dengan sabar yang serupa batu karang:
diam, keras, namun terus diterjang waktu.

Setiap malam ia dendangkan nama lelaki itu
pada langit, pada bintang tak terjamah
pada ombak pembawa kabar
kapal-kapal yang tak kunjung pulang.

“Wahai laut lepaskanlah lelaki itu dari rahimmu,
bawalah ia pulang walau sekadar bau asin dari tubuhnya.”

Rambut perempuan itu berkibar menguar rasa garam
Tubuhnya membatu karena waktu
Sanggar Imaji Bangko 1447 H

518243353_23995443523438753_6476312664619113042_n

Asro al Murthawy. Lahir Temanggung, pada tanggal 6 November 1969. Adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin dan Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi. Karya-karyanya terhimpun dalam Syahadat Senggama (k.puisi, 2017) Equabilibrium Retak (2007), Lagu Bocah Kubu (puisi, tanpa tahun), Kunun Kuda Lumping (k.Cerpen, 2016) dan berbagai antologi bersama sastrawan Indonesia lainnya. Karyanya yang lain: Pangeran Sutan Galumat (2017), Pengedum Si Anak Rimba (2018), Mengenal Lima Sastrawan Jambi (2018), Katan dan Jubah Sang Raja Hutan (2019) Bujang Peniduk (2019) dan Ujung Tanjung Muara Masumai (2019) diterbitkan oleh Kantor Bahasa Jambi sebagai Pemenang Sayembara.. Hadir dalam Temu Sastra Indonesia I (2008), Pertemuan Penyair Nusantara VI (2012) Jambi, MUNSI II (2017) Jakarta, Pertemuan Penyair Asia Tenggara (2018) Padang Panjang,dan Borobudur Writter And Cultural Festival (BWCF) (2019).di Yogyakarta dan Borobudur Writter And Cultural Festival (BWCF) (2024) di Candi Muara Jambi. Asro juga tercatat dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia.