Harry Tjahyono
YUDHISTIRA MASSARDI
(28 Februari 1954 - 2 April 2024)

SAYA MENGENAL Yudhistira Massardi tahun 1979 — seorang jurnalis, penyair, dan sastrawan yang sudah lebih dulu terkenal. Saat itu saya masih mencari bentuk, masih belajar menimbang makna, sementara Yudhis telah menjadikan kata sebagai rumah. Namun, sejak pertemuan pertama, tak ada jarak yang terasa. Ia mengajak saya ke rumah kontrakannya, di kawasan tak jauh dari Bulungan, Jakarta Selatan. Yudhis memperkenalkan saya kepada Ibunya — Emak — yang dengan lembut berkata bahwa saya mirip Noorca M. Massardi, saudara kembar Yudhis yang merantau di Perancis. Dari situ, hubungan kami tak lagi sebatas pertemanan antarpenulis. Saya diterima seperti keluarga.
Emak memperlakukan saya dengan kasih yang hangat, disediakan teh dan nasi berikut lauknya. Bahkan ketika beliau dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita, saya dicari. Saat saya datang, beliau memeluk erat dan menyebut saya "anak hilang". Pelukan itu menandai sesuatu yang lebih dalam dari persahabatan — seolah dunia kata kami telah menyatu dalam dunia hati.
Dari Yudhis, saya belajar tentang ekonomi kata — bahwa setiap kata memiliki harga, nilai, dan tanggung jawab. Ia mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar menumpahkan isi kepala, tapi menata napas dan menimbang bobot setiap kalimat. Ia menulis seperti menyusun kehidupan: efisien, jernih, penuh perhitungan rasa. Kata harus ditulis dengan cermat efektif dan tidak boleh boros. Saya langganan harian Kompas agar bisa membaca cerita bersambungnya, "Mencoba Tidak Menyerah".
Bukan hanya ekonomi kata yang saya pelajari darinya.
Saya juga belajar tentang ekonomi hidup — tentang bagaimana menyimpan uang dengan rapi di dompet, bagaimana menghormati keteraturan kecil dalam keseharian. Tapi saya gagal, tak mampu menirunya. Saya boros, tak pernah menyimpan uang dalam dompet, selalu saya masukkan sembarangan di kantong. Saya memang kacau untuk urusan itu.
Di balik sosoknya yang tenang, ada disiplin yang lembut. Ia tidak pernah marah, tidak pernah membentak, selalu bicara dengan cara yang membuat kita merasa dihormati. Saya merasa nyaman dengannya.
Suatu ketika, Yudhis pernah mengirim pesan WhatsApp. Ia meminta saya dengan halus untuk mengganti foto di Facebook — foto saya bersama Mas Remy Sylado, sang mahaguru kami, yang tengah sakit. “Saya tak tega melihat Mas Remy dalam kondisi itu,” tulisnya. Sebuah pesan kecil, tapi sarat kasih, hormat dan empati. Begitulah Yudhis — selalu memikirkan perasaan orang lain, bahkan dalam hal yang tampak sepele. Saya pun lekas mengganti foto tersebut. "Sudah saya ganti. Terima kasih ya," balas saya di WhatsApp.
Setahun wafatnya Yudhis, saya hadir mengenangnya di Taman Ismail Marzuki, sekaligus peluncuran buku "Mengunci Ingatan" oleh putra dan istrinya, Mbak Siska Yudhistira Massardi. Saya datang dalam keadaan stroke. Tubuh separuh lemah, tapi hati kuat ingin hadir. Di TIM saya bertemu Noorca M Noorca M. Massardi, Rayni Massardinew, dan Adhie Massardi, adik Yudhis, juru bicara Gus Dur, yang mengajari saya nulis cerita pendek. Saya dan Adhie berpelukan, mata kami basah. Air mata itu untuk semua kenangan, persahabatan, dan perjalanan yang kami tempuh bersama sejak muda.
Kini, setiap kali mengingat Yudhis, saya seperti mendengar kembali ketenangan suaranya, melihat kerapian dompetnya, dan merasakan kehangatan sikapnya. Ia bukan hanya sahabat dalam dunia sastra, tetapi juga guru dalam kesederhanaan hidup.
Yudhistira Massardi — sahabat yang mengajarkan bahwa kata bisa hemat tapi tetap kaya, bahwa hidup bisa tenang tanpa kehilangan daya upaya, dan bahwa persahabatan sejati adalah ruang sunyi tempat dua jiwa saling memahami tanpa banyak bicara.***
Hartjah
14102025