ALEX KOMANG
(17 September 1961 - 13 Februari 2013)
SAYA MENGENAL Alex Komang di masa teater menjadi denyut hidup mereka yang berada di Bulungan, Jakarta Selatan, 1979. Tahun-tahun penuh gairah di Taman Ismail Marzuki dan Bulungan, ketika malam belum menjadi batas, dan obrolan tentang seni, manusia, dan nasib bisa berlangsung hingga subuh.
Kami sering menonton pertunjukan teater bersama, menyaksikan aktor-aktor menyalakan hidup di atas panggung. Di Bulungan, saya sering melihat Alex berlatih untuk serial "Kiki dan Komplotannya" karya Arswendo Atmowiloto yang tayang di TVRI, disutradarai Ags Arya Dipayana. Penuh energi, penuh semangat muda yang belum tahu lelah.
Nama aslinya Saifin Nuha. Nama Alex Komang berdasar nama tokoh di "Kiki dan Komplotannya". Kemudian, Alex bergabung dengan Teater Populer Teguh Karya, dan dari sana langkahnya menuju dunia film terbuka lebar. Tapi yang istimewa darinya adalah, ia tidak berubah. Ketika ketenaran datang, waktu wajahnya muncul di layar-layar bioskop, Alex tetap menjadi sahabat yang sama — sederhana, ramah, dan tak pernah sombong. Ia masih menyapa dengan pelukan hangat, masih bercanda dengan tawa yang jujur.
Bertahun kemudian, saat dunia seni dan kehidupan telah membawa kami ke arah masing-masing, Alex membuka kedai kopi di kawasan Duren Tiga. Ia mengundang saya dan Mas Arswendo datang. Di sana kami duduk hampir dua jam, bercakap tentang zaman, tentang Jakarta, tentang cita-cita. Hari itu juga hadir Faisal Basri, 2008, yang saat itu tengah maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Di antara aroma kopi dan tawa, obrolan kami seperti kembali mengalirkan semangat masa muda: teater, masyarakat, politik, dan harapan. Alex menjadi tuan rumah yang hangat, tetap rendah hati. Kedainya bukan hanya tempat minum kopi, melainkan ruang dialog dan persaudaraan.
Suatu masa, 2004, saya menulis skenario dan menyutradarai sebuah FTV untuk TV7, Kompas Grup. Judulnya "Perpisahan yang Indah", dengan pemain Alex Komang, Ria Irawan, dan Ade Irawan. Di lokasi syuting, saya kembali melihat Alex yang dulu saya kenal — aktor yang penuh disiplin, tekun, dan selalu menghormati proses. Ia bekerja dengan kesungguhan seorang seniman sejati, tidak pernah setengah hati.
Kini, setiap kali mengenang Alex, saya teringat sorot matanya yang dalam — seperti menyimpan cahaya dari panggung yang tak pernah padam. Ia bukan hanya aktor besar, tapi manusia yang utuh, yang menjadikan hidupnya sendiri sebagai pertunjukan tentang kejujuran dan persahabatan.
Alex Komang mengajarkan bahwa ketenaran bukanlah alasan untuk meninggi, bahwa seni yang sejati membuat manusia menjadi lebih rendah hati. Dan mungkin, itulah mengapa setiap pertemuan dengannya terasa seperti babak kecil dalam drama kehidupan — singkat, tapi meninggalkan gema panjang di hati.
Hartjah
15102025