Harry Tjahjono

RENDRA****
(07 November 1935 - 06 Agustus 2009)

BERTEMU dan berbincang dengan Rendra selalu membuat saya merasa seperti sepotong karet busa—ingin menyerap setiap kata, setiap jeda, setiap napas pemikiran yang keluar dari dirinya. Rendra, saya menyebunya Mas Willy, bukan sekedar penyair atau dramawan besar. Ia adalah mata air yang tak pernah kering. Dari dirinya, kata menjadi kehidupan, dan kehidupan menjadi panggung bagi kata-kata.
Saya mengenalnya dalam berbagai kesempatan, kadang sebagai wartawan yang mewawancarai tokoh besar. Kadang sebagai sesama seniman yang mencari kebenaran di antara debu realitas. Namun, wawancara dengan Mas Willy tak pernah bisa berlangsung seperti wawancara biasa. Begitu duduk di depannya, rencana pertanyaan saya lenyap begitu saja. Ia berbicara lepas, memutar, meluas, menembus batas tema, tapi selalu tajam dan bermakna. Di tengah perbincangan itu, ia justru berkata, “Wawancaranya nanti saja. Saya akan buat sendiri ya, tanya-jawabnya.” Saya hanya bisa tertawa, karena begitulah Mas Willy. Ia tak mau dibatasi bentuk, bahkan oleh wawancara yang niatnya untuk mengabadikan dirinya. Ia lebih memilih mengalir seperti sungai, menulis percakapan hidupnya sendiri. Saya masih ingat, memberi judul wawancaranya "Memori Seks itu Pendek" untuk Majalah Sarinah 1989.
Saya pernah mempertemukannya dengan Gus Dur, setelah sepuluh tahun mereka tak bersua. Pertemuan itu terjadi dalam acara "Ngaji Demokrasi Bareng Gus Dur" di Hotel Hilton, 2007. Saya bikin acara itu untuk launching Tabloid DeFacto, yang saya terbitkan bersama Rano Karno, Butet Kartaredjasa dan teman lainnya. Agar Mas Willy benar-benar datang ke Hilton, supaya aman, saya minta Mas Iwan Burnani mengawalnya. Dua sosok besar yang sama-sama jujur dan nakal itu bertemu, berpelukan dengan tawa yang hangat. Mereka bercakap dengan bahasa batin yang jarang bisa disaksikan orang. Saya duduk di samping mereka, sekedar menyaksikan dua raksasa kemanusiaan saling meneguhkan—Rendra dengan puisi dan teaternya, Gus Dur dengan humornya yang mengguncang.. Saya merasa beruntung menjadi jembatan kecil yang mempertemukan dua arus besar kebudayaan Indonesia itu.
Setelah berhaji, Mas Willy berhenti merokok, berhenti minum alkohol. Saya kagum. Tidak bisa lagi nge-Quintreau di Serambi Bulan. Tidak bisa melihat bulan lebih dari satu. Alasan berhenti Mas Willy, katanya, dulu di Mekah sampai Jedah, air putih yang diminum terasa whisky. Saya heran, merasa dramatis, dan bilang kalau suatu saat saya jadi ingin berhaji. Sebab, waktu saya umrah dulu, 1995, air putih rasanya segar saja. Mas Willy tertawa mendengar itu. Saya juga tertawa. Dramatis.
Mas Willy selalu saya kagumi bukan hanya karena sajaknya, melainkan keberanian dan kasihnya terhadap kehidupan. Ia hadir dalam setiap pergulatan zaman, menolak diam di hadapan kebodohan dan ketidakadilan. Suatu kali, saya dan Mas Andy Soebijakto mendorongnya untuk hadir di Kementerian Kehutanan, membacakan pidato budaya "Suluk Hijau". Bersama Gus Mus dan Ayu Azhari. Ia berbicara tentang hutan seperti berbicara tentang manusia—bahwa pohon dan manusia sesungguhnya satu napas. Kata-katanya menembus dinding birokrasi yang dingin, menggetarkan ruang yang biasanya beku oleh formalitas. Ia membacanya bukan seperti ceramah, tapi seperti doa panjang bagi bumi. Bulan berikutnya, gantian Mas Willy mengundang Menhut MS Kaban menanam pohon di Bengkel Teater, Depok. Hanya untuk menanam delapan pohon. Saya pikir agak lucu juga, menteri kok menanam sedikit pohon. Tapi Menhut MS Kaban tampak senang. Ya biarinlah.
Saya mengagumi Rendra. Saya pernah membacakan puisi "Rumah Pak Karto" dalam acara "Kagum Rendra" yang digagas Arswendo Atmowiloto. Dan lebih dari itu, saya mengasihinya. Ada kelembutan dalam dirinya yang kadang tersembunyi dalam suara lantangnya Ia bisa menatap seseorang dengan mata yang seolah menembus masa depan, tapi sekaligus menenangkan, seperti mata seorang ayah yang memahami anak-anaknya tanpa perlu banyak kata. Saya menyukai cerpen Mas Willy, " Ia Sudah Bertualang", tentang anak kecil dan penjual gulali.
Ketika kabar wafatnya datang, saya sedang berada di hutan Mojokerto, 2009, bekerja sebagai komunikator budaya Calon Bupati Mojokerto. Alam di sekitar saya hening, dan saya merasa seakan hutan itu turut berkabung. Saya meneteskan air mata. Saya tak berada di sisinya saat ia berpulang. Tapi kemudian saya takziah pada Almh. Mbak Ken Zuraida, istrinya, dengan hati yang berat. Dalam kesunyian itu, saya mengenang segala pertemuan dan percakapan dengan Mas Willy—dan menyadari, bahwa ia tak pernah benar-benar pergi.
Mas Willy telah menjelma menjadi suara di dalam diri saya. Suara yang mengingatkan bahwa kebebasan bukan sekadar hak, tapi tanggung jawab untuk menjaga kehidupan agar tetap indah dan manusiawi. Ia telah menanamkan semangat bahwa puisi tak hanya dibaca, tetapi dijalani. Bahwa teater bukan sekadar tontonan, melainkan perlawanan terhadap ketakutan dan kebohongan. Saya punya koleksi buku-buku karya Mas Willy yang ditandatanganinya.
Begitulah WS Rendra, penyair yang menulis dengan darahnya sendiri, dramawan yang berjuang dengan nurani, dan manusia yang mencintai sesamanya dengan sepenuh jiwa.***
Hartjah
12102025

Foto by Yanto Bhokek, 1992