Harry Tjahyono
SYS NS
(18 Juli 1956 - 23 Januari 2018)
NAMA ASLINYA Raden Mas Haryo Heroe Syswanto. Akrab disebut Sys NS. Saya mengenalnya sekitar tahun 1980, di masa ketika dunia jurnalistik masih penuh aroma tinta dan idealisme. Saat itu, Sys NS sudah dikenal luas—ganteng, hangat, dan mudah akrab. Ia seperti magnet sosial. Dari seniman, artis sampai presiden, dari rakyat kecil sampai pejabat tinggi, semua bisa merasa dekat dengannya. Ia punya kelebihan yang langka—kemampuannya membuat setiap orang merasa penting.
Kami bersahabat tanpa banyak basa-basi. Saya jurnalis dan seniman, ia figur publik yang selalu sibuk. Tapi di antara kesibukan itu, selalu ada ruang untuk berbagi tawa dan pikiran. Sys tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Tapi ia juga tak pernah menghakimi. Ia tak pernah meminta saya berhenti merokok, tak pernah melarang saya meneguk bir. Bahkan, ia tak pernah mengajak shalat bersama. Baginya, iman adalah wilayah pribadi—dijalani dengan tenang, bukan ditunjukkan untuk menilai orang lain. Dalam diamnya, saya belajar tentang toleransi yang tulus, bukan yang dibuat-buat.
Di balik senyumnya yang khas, Sys adalah pekerja keras dan pejuang gagasan. Ia salah satu pendiri Partai Demokrat, bukan untuk sekadar politik kekuasaan, melainkan untuk menyalurkan idealismenya tentang Indonesia yang lebih waras, lebih beradab. Ia juga mendirikan dan jadi Ketua Umum Partai NKRI.
Tahun 2017, saya mengajaknya bergabung dalam satu medan yang sama: membela KPK dari serangan DPR RI. Bersama Roy Marten, Arswendo Atmowiloto, Harry Sabar, Budi Djarot,dan sejumlah seniman lainnya, kami berdiri dalam gerakan yang kami namakan “Indonesia Waras”. Gerakan itu sederhana, tapi maknanya dalam—kami ingin bangsa ini tetap punya nurani dan bersih korupsi. Kami ingin DPR RI tidak menyerang dan melumpuhkan KPK. Komisi Pemberantasan Korupsi, pada saat itu, 2017, memang layak dibela. Suara "Indonesia Waras" langsung menggema.
Saya masih ingat bagaimana Sys bicara dengan api di matanya, tapi tetap santai, tetap jenaka. Ia tahu bahwa humor sering kali lebih tajam dari kemarahan. Ketika kemudian Sys dan Roy Marten dipanggil dan diperiksa Bareskrim POLRI, kami semua tahu risiko yang kami hadapi. Tapi Sys tetap tersenyum. Katanya waktu itu, “Kalau karena waras saja kita diperiksa, berarti negeri ini benar-benar sedang sakit.” Kalimat itu menempel di kepala saya sampai hari ini. Kami sering melakukan pertemuan untuk membicarakan langkah lanjut "Indonesia Waras".
Kami menemui empat Ketua KPK di Gedung Merah Putih dan menerima gembok untuk dipasang di Monumen Gembok Kejujuran di Kota dan Kabupaten Madiun yang diresmikan KPK, Walikota Bupati, pejabat daerah dan LSM Abimantrana yang diketuai Alm. Mas Herutomo.
Kami bersahabat sampai tiba-tiba kabar itu datang—Sys meninggal dunia. Satu tahun setelah kami bikin gerakan "Indonesia Waras". Rasanya seperti kehilangan cahaya kecil di ruang yang sedang gelap. Tak ada perpisahan, tak ada pesan terakhir, hanya keheningan yang menyesakkan. Ia pergi dengan cara yang sederhana, seperti gaya hidupnya yang tanpa pamer. Tapi jejaknya tetap terasa: pada tawa, pada keberanian, pada kesetiaan pada kebenaran.
Kini, setiap kali mengenangnya, saya merasa sedang berbicara dengan sosok yang tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Sys NS—lelaki yang ramah, berprinsip, dan selalu membuat dunia sekitarnya sedikit lebih hangat, sedikit lebih waras.
Saya kehilangan seorang sahabat, tapi lebih dari itu—saya kehilangan cermin tentang bagaimana hidup bisa dijalani dengan ringan, tanpa kehilangan arah.***
Hartjah
13102025