ERYANTHO KAMIS :
SUARA MESIN TIK DALAM PESAWAT

Suara mesin tik terdengar dalam pesawat Air Macau
Siang penerbangan Jakarta – Macau penumpang separuh kosong
Irama tak beraturan perlahan turun seperti hujan di atap genteng
Kata demi kata mengalir air bah
Tetapi gagal seirama lajunya jari menari di atas tik demi tik
“Aku belajar mengetik,” kataku
Dari dapur ibu tertawa mendengar keanehan
Dia tak tau apa sedang kukerjakan
Aku sendiri belum mengerti di tengah kata tercipta
Hanya mengalir
Mengalir seperti air sungai Kahayan yang masih jernih
Berlayar dari satu tik ke tik lainnya
Terkadang jariku terperosok di selanya
Seperti bocah belajar naik sepeda
Jatuh dalam got
Nyungsep di jalan tak beraspal
Dikejar anjing tetangga
Tak di perdulikan
Kertas buram kucomot dari meja kakak
Mengerti bakal tertimpa pohon besar
Begitu cara belajar menebang pohon dengan sebelas jari
Memetik imajinasi yang lalulalang tanpa permisi
Menjelajah angkasa, menemani bobo siang
Meraih yang pernah kulihat dan rasakan
Sambil membayangkan langit kosong masa depan
Setiap pulang sekolah berharap engkau sudah hadir
Diam di meja tamu menunggu di buka
Koran pagi datang siang
Terkadang menjelang malam berdalih hujan
Mata mengawasi Dahaga
Ketika jerih payah nongol disitu
Seolah mengambar dunia baru
Semangat mengebu hadir setiap minggu
Aku akhirnya bertemu sastrawan Badar Sulaeman Usin
Aku bergaul kepala LKBN Antara yang cinta sastra JF Nahan
Aku diajari baca puisi Makmur Anwar MH pegawai yang suka teater
Aku sepanggung Mas Eko mantan guru SMPku yang suka musikalisasi puisi
Aku baca puisi di panggung Tebaran Sastra RRI Palangkaraya di gawangi Supardal Jaya Subrata
Lalu menghilang keluar zona nyaman menyendiri di propinsi tetangga
Berguru menimba ilmu baru
Setelah lulus melalang buana di dunia koran
Yang akhirnya tersisih dan terlupakan
Sambil menyeruput kopi di dalam pesawat Air Macau
Lumbung Puisi mengajak berkisah lama
Kenangan nyaris sirna dengan bertambah usia
Dan kesibukan terus mendera jiwa
“Ternyata kita disini masih ada, mendongeng bagi anak cucu kita”
Air Macau, 11 Oktober 2025

*Eryantho Kamis, kelahiran Kalimatan Tengah, menyukai puisi sejak 80-an masih SMA. Karena sering bergaul dan dorongan menulis dari para seniornya kala itu, semangatnya berkarya juga menyala. Tetapi sepulang kuliah (89) di propinsi tetangga dia malah terjun kedunia jurnalistik hingga sekarang. Kini lebih aktif berkarya di dunia online. Dan ikut mengisi beberapa antologi bersama yang digagas komunitas yang ada di Face Book. Ery begitu dia akrab di panggil tinggal di Bekasi.@
*