SUNGAI MARTAPURA
Moel Soenarko
Kutatap harap, kilau tubuh beriak gemuruh
Ingatan berlari lewat jamban berlantai jarang
Pintalan simpul-simpul terikat menguatkan
Bersulamkan benang-benang kaganangan
Kutatap ilung menari lukisan rindang banua
Rumah lanting bernyanyi, jukung mengiringi
Tudung tanggui lebar, mataku terhalangi
Mengintip wajah berbedak tebal, mangganangi
Kutatap nanar terhenyak, sembilu menyentak dada
Jukung-jukung berjajar gagu, terikat di batang nyiur menjulur
Berkerudung daun pisang, daun rumbia, sarung berlumur
Menyelimuti tubuh-tubuh kaku mengelupas terbujur
Dikoyak terjangan timah panas menyalak kejam
Menadah harap tubuh dipendam dalam kelam
Kutatap kelu ke langit biru membahana sendu
Burung bersuara dahsyat, memuntahkan hajat
Kulambaikan celana dalamku ‘tuk mencegahnya
Suara serak ibu memanggil nyaring namaku, bersegera
masuk lubang perlindungan di depan rumah, berdinding
tanah, berlapis tilam kapuk penahan peluru masuk
Seperti membuka album berdebu, berjudul zaman Jepang
Kutatap subuh rindu, suara ketukan kayuh di bibir perahu
Tak kutemukan muara sungai tak bertepi, tenang, sepi
Badan sungai menyempit, rumah lanting berhimpit melangit
Warung mengapung menghangatkan, pasar bakunyung
Riuh rendah suara perahu motor meraung-raung
Waktu berubah, soneta kota kelahiran tetap membayang.
Mengenang kota kelahiran: Kuin Selatan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan tahun 1941.
Bahasa Daerah Banjar:
Kaganangan : teringat
Jukung
: perahu kayu
tudung tanggui : penutup kepala
Mangganangi : mengingatkan
Ilung
: tanaman air seperti eceng gondok