Gilang Teguh Pambudi
BAPAK DAN TUHAN
tahun 1984 bapak tidak pernah menyuruh
mampu menulis puisi
ia hanya pernah memberi satu contoh
saat anak SD-nya mendapat PR dari sekolah
kelak justru aku yang sibuk berpuisi
saat itu bapak juga tidak pernah menyuruh
menulis cerita
ia cuma bikin pengalaman pita kaset
merekam baca cerita pendek Sabai Nan Aluih
kelak 1987 koran Jakarta sudah memuat cerpenku
bapak yang berkulit legam, di atas motor tril,
dari bukit perkebunan itu
tidak pernah menyuruh
mengetahui seluk-beluk wayang
ia hanya membangunkan anaknya
saat "goro-goro" tengah malam
lalu bilang, "Ini bagian wayang paling lucu"
kelak aku mulai memahami karakter dan pesan
bapak tidak pernah menyuruh
main atau nulis naskah drama
dia hanya bilang
tiap jam sekian ada siaran drama menarik di radio
kelak siaran radio, puisi, cerpen, dongeng,
dan naskah drama menjadi keseharianku
bapak tidak marah waktu aku menggambar
sebesar pintu
perempuan super seksi berdada besar
ia cuma bertanya,
"Apakah satu karaktermu bicara banyak
seperti gambar wayang ini?"
ia bertanya setelah satu karakter wayang kulit
selesai digambar bahkan ia tatah
sementara Tuhan mengatakan,
"Kamu harus melakukannya"
setelah usia SMA-ku banyak menulis
sampai setiap saat menemui
penjual koran pinggir jalan
sekadar melihat apakah ada karya yang dimuat
kelak aku pun berhikmah
Kemayoran, 29 10 2025