Dhinar Dewi

NASIB PUISI

kami, sederet abjad terserak jejak lampau
tetap, pindah, resap atau acuh terinjak.

matamu bergerilya
mencabik tumpukan koran
serba dusta kata. kata tatamu
di ruang pojok sastra saksi masa.
tiap lembar kau atur pada lantai kamar
seukuran manusia. kini, tampak serupa rasa nestapa.

nyala lampu padam di matamu
rasa-rasanya lekas waktu tiba
menjelma tubuh senja.

tanganmu tak kuasa merekat tinta kata
kaki kaku pergelangan tangan bertemu
badanmu menindih tubuh dustaku
malam ini tiada lagi bersua
hari puisi tak kau jumpa. aku pun tiada.