Dedy Bachta
DI HARI MENGENANG PENYAIR 80’AN
Tuan
Hari ini aku menulis dengan hati yang basah.
Dari radio pagi kudengar kabar itu
seorang penyair dari masa muda kita telah pulang,
kembali ke rahim keabadian
dengan tangan yang masih menggenggam kata.
Aku termenung lama,
Tak ada yang lebih sunyi dari kabar duka
tentang seseorang yang pernah menyalakan terang dalam kata.
Di luar, langit tak berawan,
tapi entah kenapa cahaya terasa redup,
seolah ikut berduka atas kepergian seseorang
yang menulis cahaya untuk kita semua.
Kau tahu,
setiap kali seorang penyair berpulang,
aku merasa dunia kehilangan satu cara untuk memahami dirinya sendiri.
Sebab hanya lewat merekalah
kita tahu bagaimana luka bisa menjadi lagu
dan kehilangan bisa menjadi rumah.
Aku masih ingat sore itu
kita duduk di beranda,
membaca puisinya dengan suara pelan.
Kau menatap jauh, aku menunduk,
dan di antara diam itu,
ada rasa yang tak terucap:
bahwa menulis adalah cara kita mencintai hidup
tanpa harus memilikinya.
Kini penyair itu telah pergi,
tapi puisinya masih bergema di udara,
mendatangi hati siapa saja
yang pernah mencintai kata seperti kita dulu.
Barangkali begitulah cara Tuhan
menyembunyikan keabadian:
bukan di tubuh,
melainkan di kalimat yang tak bisa mati.
Aku tak tahu, Tuan,
berapa lama lagi kita akan menulis.
Pena mulai berat, mata mulai kabur,
namun setiap kali aku mendengar nama-nama itu
nama para penyair yang tumbuh dari tahun delapan puluhan,
aku merasa hidupku masih tersambung dengan cahaya lama,
yang dulu mereka nyalakan agar kita tak tersesat.
Maka malam ini aku menyalakan lilin kecil di meja,
kubuka buku puisinya,
kubaca pelan satu bait yang pernah kita sukai: "Kata adalah tubuhku, dan aku hanya ingin hidup di dalamnya."
Aku berhenti di situ,
dan biarkan senja melanjutkan sisanya.
Tuan,
jika suatu saat aku berpulang lebih dulu,
jangan bersedih.
Tulis saja satu sajak sederhana
tentang kita dari tepian danau singkarak,
yang menulis bukan untuk dikenang,
tapi untuk saling mengingat.
Sebab aku percaya
setiap kali kita menulis nama satu sama lain,
para penyair 80’an itu pun tersenyum di langit,
mengetik satu baris baru
tentang persahabatan yang menolak mati.
Sijunjung, 27 Oktober 2025