Sri Wahyun Nukman
SEBUAH CATATAN DARI JANNY
Aku melihat dia dalam sebuah pesta, tapi dia tidak tersenyum dan tidak melambaikan tangannya padaku
Dia terburu-buru menarik tangan perempuan itu untuk segera beranjak dari pesta
Aku tidak tahu apa yang dia rasakan tentang hatinya
Aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan tentang hatiku
Aku menulis dalam catatanku tentang dia yang bukan hanya sebagai kekasihku di masa lalu
tapi dia telah merebut sebuah ruang dalam hatiku dan cintanya membuatku sebagai perempuan yang tangguh
Ketika dia mengkhianati hatiku dan pengkhianatannya membuatku sebagai perempuan yang rapuh
hingga mimpi-mimpiku yang indah itu menjadi debu
Dia berlalu sebelum mataku dan matanya bercengkerama
karena mungkin hatinya penuh dengan semak-semak kecemasan atau hatiku seperti langit yang mendung
Mataku dan matanya belum bercengkrama pada pesta itu
tetapi aku tahu bahwa ada yang tidak sanggup terkatakan dengan lisan
atau ada yang tidak sanggup disembunyikan dari hati dan mata
Aku menulis sajak ini sebagai perempuan yang melawan pengkhianatan dalam tragedi cinta
atau ini sebuah peringatan bahwa ada mantan yang terlahir dari rahim pengkhianatan
MEDAN, 30 Januari 2024
Sri Wahyuni Nukman lahir pada 1 Januari 1971 M di Medan, Sumatera Utara. Dia merupakan puteri yang paling bungsu dari Muhammad Nukman Yahya dan Siti Arbaiyah. Bungsu dari dua belas bersaudara ini lebih terkenal dengan sebutan Yoen, Yuni, Echi dan juga disebut dengan Bintu Nukman. Sri Wahyuni Nukman sebagai motivator dan jurnalis yang aktif dalam beberapa organisasi seperti Aliansi Jurnalis Independen Medan, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Forum Daerah UKM Sumut, Yaskum Indonesia dan lainnya. Juga pernah bekerjasama dengan Swisscontact pada tahun 2005, sehingga dia banyak terlibat dengan pengusaha perempuan di Aceh.