Warsono Abi Azzam

DI MAJALAH DINDING AKU BELAJAR SUNYI

pertengahan tahun delapan puluhan
puisi-puisiku lahir di antara bel istirahat dan pulang
menyelinap di antara buku dan hati yang ingin dikenal
namun hanya dinding usang yang membaca
dan beberapa pasang mata
yang diam-diam ikut bergetar
dentang bel sekolah jadi tanda baca
papan tulis bertajuk majalah dinding
merupa langit yang bisa kuhapus dan kutulisi lagi
setiap huruf adalah bekas napas
yang ingin jadi sesuatu sebelum hilang
aku ingin puisiku dimuat di koran
bukan nasional yang terkenal, cukup yang lokal
tapi pos kilat tak pernah mengantarkan namaku
mungkin amplopnya tersesat di antara iklan duka cita
atau disobek waktu mencari kabar cinta
di halaman koran, nama-nama besar berkibar
Kriapur, Triyanto Triwikromo, Gunoto, Agoes Dhewa
dan sederet nama yang aku hafal di luar kepala
mereka menyalakan bara di dada
aku ingin satu larikku ikut menyala di sana
meski hanya secuil abu di halaman terakhir
di mading teman-teman membaca puisiku sambil tertawa
aku ikut tertawa agar tak ketahuan sedih
mereka bilang puisiku terlalu sunyi
aku tahu, acapkali sunyi memang tak berarti
dan sejatinya ia lahir dari rasa tak percaya diri
di perpustakaan aku mencium aroma kata
yang tua, yang lapar, yang tak sabar ingin bermakna
aku menulis lagi, menulis lagi, dan lagi
sampai tinta menolak disebut tinta
hingga bertahun-tahun kemudian
aku masih menulis di dinding
tapi dindingnya sudah berganti layar
dan tinta bermetamorfosa jadi cahaya
kadang aku rindu huruf-huruf itu
yang tumbuh di antara dinding, kertas dan debu
yang menghias sudut majalah dinding sekolah
yang kadang direnggut oleh tangan-tangan jahil
yang kadang berpindah ke dalam buku teman perempuan
sekarang aku tahu
puisi tak perlu dimuat di mana pun
cukup di sini, di dada sendiri
yang selalu bisa dibaca ulang
setiap kali merasa tak dikenal

Cilacap, 26 Oktober 2025