A. Machyoedin Hamamsoeri

SANG PENYAIR

Menyusuri jejak kenangan
Akhirnya sampai pada seraut wajah
Seorang penyair, yang sering kali menulis puisi
Ada yang menarik dari dirinya
Karena dalam kesehariannya itu
Tak lepas dari blangkon dan baju batik
Begitu sederhana
Dan bersahaja kehidupannya
Ia tak suka keramaian, itulah sebabnya
Ia memilih untuk bermukim di kaki gunung
Di sanalah ia menulis, membuat puisi
Yang cemerlang dan memukau banyak orang
Sampai penyair Mancanegara pun mengaguminya
Sekali waktu, mengendarai motor trail
Aku berkunjung
ke rumahnya, di kaki gunung itu
Dan ia menyambutku, dengan sebuah pelukan hangat
Rumahnya yang berbentuk Joglo
Mencerminkan kearifan budaya lokal
Begitu indahnya, dengan nuansa etnik Jawa
Membuatku kagum dan ingin berlama-lama
di sana
Namun tak ada kursi,
di ruang tamu
Hanya sehelai tikar pandan, bersulam rindu
Lalu kami terlibat dalam
percakapan yang seru
Tentang situasi negeri, juga tentang karya puisinya itu
Terus dia bilang begini:
Sebenarnya aku malu, disebut sebagai penyair
Karena aku, tak punya
perangkat ilmu tentang sastra
Tulisan atau puisi-puisiku itu, mengalir begitu saja bagai air
Aku terkesima, ternyata
Orang ini tak sombong dan rendah hati
Sementara orang-orang sibuk tampil agar terkenal
Ia malah sembunyi
di balik waktu dan nama besarnya itu.

Sri Anggur, 27 Oktober 2025.

*A. Machyoedin Hamamsoeri, Lahir di Jakarta 17 Juli 1952
Pekerjaan: Pensiunan , Mulai menulis sejak tahun 1970-an. Antara tahun1970-1980 an, puisi atau sajak-sajaknya sering dimuat di beberapa Media Massa . Telah menerbitkan beberapa buku puisi tunggal dan sering ikut dalam antologi puisi bersama. Namanya masuk dalam buku: Apa Dan Siapa Penyair Indonesia (YHPI - 2017)
*