Handh Yanies
NYANYIAN SENJA DI KERTAS BURAM 80-AN

Ada denyut lain di tahun-tahun itu, delapan puluhan, sebuah dekade yang menyimpan rahasia dalam rimba kata. Kertas buram masih jadi saksi, bukan layar benderang. Tinta hitam merayap pelan, mencatat gema yang datang dari balik tirai kekuasaan, dari sunyi yang memberontak.
Puisi tak lagi hanya tentang rembulan dan duka yang anggun. Ia menjadi prosa liris yang terurai, larik-larik panjang yang membebaskan diri dari kaidah konvensional, merangkul diksi yang lebih terbuka—kata-kata sehari-hari yang tiba-tiba berbobot filsafat, menjelma metafora yang merobek.
Penyair belajar merangkai kejujuran di antara baris-baris samar. Aroma kopi dan asap rokok kretek menemani perdebatan di ruang-ruang kampus yang remang, di kedai-kedai sederhana pinggir kota. Malam-malam yang panjang, dipenuhi teriakan estetik dan perlawanan yang lirih.
Di sana, dalam setiap sajak yang dicetak stensil, tersembunyi kerinduan akan kebebasan yang hakiki. Para penyair bukan hanya seniman, mereka adalah penafsir zaman, mengais makna dari remah-remah realitas. Mereka memadukan yang transendental dengan yang sangat membumi, menciptakan kata-kata konkret yang menggedor kesadaran.
Era 80-an adalah melodi yang dimainkan dengan piano usang; bunyinya tak selalu jernih, namun resonansinya menggetarkan jiwa. Kami mendengarkan gumaman para sufi modern, menelusuri jejak-jejak spiritual di tengah hiruk pikuk politik dan pembangunan. Kesederhanaan dalam penampilan, namun kedalaman yang mengakar pada teks.
Sebuah era kepenyairan yang indah, karena ia mengajarkan bahwa puisi adalah keberanian untuk menamai hal-hal yang tak terkatakan, untuk memberi warna pada abu-abu, dan untuk percaya bahwa selembar kertas, meskipun buram, bisa menampung seluruh cakrawala. Kesan yang tertinggal adalah: keindahan sejati seringkali lahir dari keterbatasan, dan kebebasan tertinggi adalah saat kita menemukan ritme kita sendiri di tengah kekangan.
Kita adalah saksi dan pewaris nyanyian senja itu.

Malang'__ 2025

***Handh Yanies **, hanya seorang penikmat puisi dan literasi, menyukai dan menulis puisi sebagai media pencetusan jiwa atas realita yang dilihat dan dirasa. Karya - karyanya termuat dalam antologi - antologi bersama penulis - penulis lainnya.