A. Zainuddin Kr.

DI KEDAI KOPI SASAK BAMBU

di tengah pidato kenegaraan soal repelita dan gbhn pada radio transistor, senja itu serupa secangkir kopi. hitam pekat.
tabung televisi empat belas inci mati suri sejak sore kemarin oleh accu dua dua voltase lemah setrum, dan dikirim ke cacay sejak siang.
kedai sasak, lincak bambu, meja miring dan kaki-kaki terikat berutas tali -- disisi perempatan seberang pabrik lem perekat tepi jalan penuh genangan -- aku disitu.
senja kerembang petang, tanpa spiritus wak kolot menyalakan petromaks dengan permainan sokle.
cahaya meremang lalu berlompatan lewat celah sasak-sasak bambu. seekor mataku nyangkut di pagar gerbang pabrik sepatu, sedang cangkir kopi tinggal ampasnya.
"aku menunggumu" selorohku seusai kau lunasi kasbon mingguan.
ah, ya. itulah awal di malam minggu ahir bulan di tahun delapan puluh sekian.
Dan, dari sana pula yang bernama cinta kelak tumbuh.
pidato kenegaraan yang tayang berulang di radio kini berpindah siaran drama kolosal: raja madangkara yang teramat perkasa, tetapi kalah sakti dengan raja jawa di alam nyata.
kedai miring sasak bambu atap rumbia dan daun tebu, di kelembaban lantai yang tanah oleh hujan barusan jiwa ini basah serupa kecambah, dan seperti ada yang tumbuh disitu.
kenang.
kenanglah sayang! raja jawa yang begitu tangguh -- yang terus bersaing di radio -- bersama serial drama saur sepuh.
sementara ada siaran faforit bernama kelompencapir yang menjadi ikon di televisi-televisi hitam putih.

2025