Suriar Amazi

BONCENGAN KENANGAN DI ATAS SAYAP YAMAHA

Kenangan silam berdesir lembut di pori waktu,
saat kuliah masih berseragam semangat dan cita-cita biru.
Kukendarai motor bebek Yamaha merah, gagah dan bersahaja,
kerangka baja tahun tujuh lima - saksi muda dari negeri Sakura.
Anak-anak kampus menyebutnya “kupu-kupu besi dari Jepang”,
terbang rendah di jalan kota, mengilap di bawah mentari muda.
Betapa banyak gadis terpikat oleh dengung mesinnya,
dan aku, si perjaka lugu, ikut hanyut dalam pesonanya.
Tahun pun berputar - ke delapan lima yang penuh warna,
bebek Yamaha hijau muda jadi tungganganku yang baru.
Rakitan delapan dua, tapi jantungnya berdetak seperti cinta pertama,
saat mataku terpaku pada gadis putih berselendang sederhana.
Ia kerja di unit koperasi, penuh senyum dan kesahajaan,
setiap sore kujemput dia, berdua mengarungi hari di atas pelana baja.
Terik mentari jadi saksi, angin berlagu di antara helai rambutnya,
boncengan kami seperti doa yang tak selesai diucapkan waktu.
Aku tak pernah bertanya,
“Apakah cintanya karena motor atau karena aku?”
Yang kutahu, semboyan “Yamaha Selalu di Depan”
menjadi mantra yang menyalakan bara keyakinan.
Kami melaju di jalan yang masih lempang,
tanpa bising, tanpa desak kendaraan zaman kini.
Pukul tujuh pagi - udara masih suci,
aroma aspal baru berpadu dengan harapan hari.
Dulu, tak banyak anak muda punya tunggangan sendiri,
motor adalah mimpi, bukan sekadar alat pergi.
Kini, dunia berputar di roda industri dan kredit modern,
motor-motor berbaris bagai semut mencari arah.
Anak sekolah, mahasiswa, pekerja - semua menunggang kebebasan,
tapi jalan raya justru terasa sesak, sempit, kehilangan kesunyian.
Kemajuan memang mengagumkan,
namun kadang, aku rindu lengang masa lalu -
ketika boncengan cinta tak tergantikan oleh apa pun di dunia.
Suriar Amazi
Alalak, Barito Kuala
Senin, 13 Oktober 2025/21 Rabiulakhir 1447
11.23 wita.
BIONARASI:
SURIAR AMAZI, pencinta, penikmat dan suka menulis puisi. Lahir di kota Banjarmasin. Berdomisili di Kel. Semangat Dalam, Kec. Alalak, Kab. Barito Kuala, Prov. Kalimantan Selatan. Karya tulis puisi tersebar di berbagai Komunitas Sastra Fb menggunakan nama asli atau pena AKSARA AJIE AHMAD dengan berjenis genre puisi. Bergabung dalam beberapa Antologi Bersama: "1000 Misda Dunia Aksara" (2021), "1000 Tanka Indonesia Vol. 2"-Newhaiku Indonesia (2022), "Dwi Bahasa Ibu Bahasa Darahku" Seri ke-2-TISI (2023), "100 Chairil Anwar Masa Kini"-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2023), "Ritual Madah Aksara"-Sastra Nusa Widhita (2023), "Senja Di Taman Aksara"-Lintang Publish Semesta oleh grup Taman Aksara (2023), Antologi Puisi "Swasembada" Koperasi-Dapur Sastra Jakarta (2023), "Melihat Indonesia Kini"-Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2024), Antologi Bersama "Dwi Bahasa Ibu Bahasa Darahku" Seri ke-3-TISI (2024), Antologi Menulis Bersama tema "Tahun Baru"-Coretan Kita CK (2024), "Jiwa Puisi Abadi" (100 Tahun Chairil Anwar 2022)Kumpulan Puisi Komunitas Jejak Perjalanan Jiwa (2023), Antologi Puisi Bersama Dapur Sastra Jakarta "DEMOCRAZY" (2024), Antologi Menulis Bareng "Berjalan DenganMu"-Coretan KitaCK (2024), Antologi Menulis Bareng "Rokok"-Kumpulan Coretan Kita (2024), "Membaca Ibu-Ibu, aku Anakmu"-TISI (2024), "Swara-Swara Anak Pulau"; Ahli Waris Sah Republik Indonesia-TISI (2025), "Lewatlah Gelap Terbitlah Terang"-Dapur Sastra Jakarta (2025), dan Antologi Menulis Bareng "Di Negeri Orang"-Kumpulan Coretan Kita (2025). Dapat ditemui pada akun fb: https://www.facebook.com/suriar.amazi dan email: [email protected]