ARSWENDO ATMOWILOTO.
**(26 November 1948-19 Juli 2019) **

ADA SAHABAT yang datang dalam hidup seperti hujan pertama setelah musim kemarau. Sejuk, menyegarkan, sekaligus sulit terlupakan. Salah satunya adalah Arswendo Atmowiloto.
Bagi saya, Mas Wendo bukan sekedar penulis besar, jurnalis, dan budayawan yang dikenang banyak orang. Ia adalah sahabat, tempat berbagi gelisah, bercanda, dan berdebat tentang hidup dan tulisan. Persahabatan kami tidak dibangun dalam sekejap, melainkan tumbuh dari pertemuan, percakapan, dan rasa saling percaya sebagai sesama manusia yang bergulat dengan kata-kata, selama 40 tahun, sejak 1979 sampai 2019.
Mas Wendo selalu punya cara membuat hidup terasa lebih ringan. Ia bisa menyulap kesulitan menjadi cerita lucu, mengubah luka menjadi bahan renungan, dan bisa membuat saya tertawa pada hal-hal yang sebetulnya getir. Dari dia saya belajar bahwa menulis bukan hanya soal menyusun huruf, merangkai kata, melainkan soal keberanian untuk jujur, bahkan ketika kejujuran itu menyakitkan.
Kami pernah berjalan bersama dalam ruang-ruang kreatif yang berbeda tapi saling menyapa. Ia dengan imajinasinya yang tak ada habisnya, saya dengan pencarian saya sendiri. Kadang kami berbeda pandangan, tapi justru di sanalah letak hangatnya persahabatan. Bisa setuju untuk tidak setuju, tanpa kehilangan hormat dan kasih.
Kereta kematian akhirnya menjemput Mas Wendo. Dan ketika ia pergi, saya merasakan ada ruang kosong di hati, seakan satu bangku di ruang tunggu kehidupan ini tak akan pernah terisi lagi. Tapi sekaligus ada kehangatan tersisa, bahwa sahabat sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir dalam ingatan, dalam cerita yang dibagikan, dalam karya yang ditinggalkan, dalam tawa yang kadang tiba-tiba muncul saat mengingat wajahnya.
Persahabatan dengan Mas Wendo mengajarkan saya bahwa hidup ini bukan tentang seberapa lama saya berjalan, melainkan bagaimana meninggalkan jejak. Ia meninggalkan jejak yang dalam pada sastra Indonesia, jurnalisme, dunia seni, dan pada hati orang-orang yang mengenalnya.
Dan saya? Saya merasa beruntung pernah berjalan bersama dia dalam lintasan hidup ini. Persahabatan kami adalah salah satu hadiah yang membuat perjalanan menunggu kereta kematian terasa tidak terlalu sepi. Ia yang terus mendorong saya menyelesaikan novel Bhagawad Gawat yang lama terbengkelai, dengan menyebut novel itu "nakal, genial, orisinal".
Saya sudah menulis panjang persahatan saya dengan Mas Wendo, dan ingin menerbitkannya tersendiri. Saya ingin menjaga api persahabatan itu tetap menyala—dengan menulis, bercerita, tetap setia pada nilai-nilai yang pernah kami percakapkan. Sebab, sahabat sejati, seperti Mas Wendo, bukan hanya bagian dari masa lalu, melainkan juga penerang bagi perjalanan yang masih tersisa.
Hartjah
02102025