TINO KARNO
(9 Februari 1959 - 2 Januari 2001)
TAHUN 1978 adalah tahun yang hangat dalam ingatan.
Saya dan Tino Karno masih sama-sama bujangan — muda, liar, dan penuh rasa ingin tahu tentang hidup. Saya kenal Tino karena novel saya Selamat Tinggal Duka dibeli untuk difilmkan Soekarno M. Noor, ayah Tino. Skenarionya ditulis Syumanjaya, dan film itu dibintangi oleh Rano Karno, Yessy Gusman, dan tentu saja Tino Karnoi.
Tino memerankan Leo, anak jalanan, sosok “crossboy” yang keras, suka minum alkohol, dan gemar berantem — tokoh yang tampak liar tapi menyimpan kebaikan. Anehnya, dalam kehidupan nyata, Tino tidak jauh berbeda dari perannya itu — bukan karena ia mencari citra, tetapi karena hidup dan peran seolah saling menyerap satu sama lain.
Kami minum bir bersama, bukan untuk mabuk, tapi untuk berbagi kisah, tawa, dan gembira. Dalam setiap tegukan, ada percakapan yang jujur: tentang cinta, tentang film, tentang nasib seniman di negeri yang orang belum menaruh hormat pada kesenian. Selain dengan Tino, saya juga akrab dengan Rano Karno Rubby Karno, Santy Karno, Suty Karno, Nurly Karno, Om Sukarno M Noor dan Mama Lily.
Suatu hari, Tino mengajak saya ke Lampung. Kami naik bus umum — perjalanan panjang yang dipenuhi tawa dan obrolan tanpa arah. Ia ingin mencari rumah pacarnya, Winda. Dalam perjalanan itu saya melihat sisi Tino yang lembut dan tulus, di balik sikap kerasnya. Ia jatuh cinta dengan cara yang polos dan penuh semangat, seperti remaja yang percaya cinta bisa menaklukkan jarak. Kami tidak punya uang banyak, dan celakanya rumah pacarnya tidak ketemu, kami menginap di losmen kecil.
Saya juga sering diajak ngapel ke rumah kos Winda di kawasan Menteng. Kadang kami hanya duduk di depan rumah, merokok, berbagi cerita, menertawakan hal-hal kecil. Itulah Tino — sahabat yang terbuka, terus terang, dan setia kawan. Ia tidak menyembunyikan apa pun, tidak pernah pura-pura. Tapi, akhirnya hubungan Tino dan Winda putus begitu saja.
Setelah kami menikah, punya anak, kehidupan pun berjalan ke arah yang berbeda. Tapi persahabatan itu tidak pernah hilang. Saya juga akrab dengan Endang, istrinya. Dalam setiap pertemuan, Tino tetap seperti dulu: sederhana, apa adanya, tanpa kesan “artis”. Ia tidak pernah merasa lebih tinggi hanya karena dikenal banyak orang. Dalam kesederhanaan itu, justru terasa martabat seninya — tulus, jujur, dan manusiawi.
Ketika Tino wafat, saya kehilangan seorang sahabat yang lebih dari sekadar teman lama. Rasanya seperti kehilangan potongan masa muda sendiri — masa yang keras tapi penuh kehangatan, masa di mana pertemanan tidak diukur dengan kepentingan, melainkan dengan kejujuran hati.
Kini, setiap kali mengenang Tino, yang datang bukan hanya wajahnya, tapi juga suara tawanya, perjalanan di bus ke Lampung, dan aroma bir yang kami bagi di malam-malam panjang. Ia tetap hidup di ingatan saya — bukan sebagai aktor, tapi sebagai sahabat sejati, yang telah menemani melewati babak paling jujur dalam kehidupan seorang seniman muda.
Hartjah
1610025