Iwang Nirwana
Surat Biru dan gerai rambutmu dalam catatan

Di halaman sekolah yang masih berdebu,
ada bangku panjang tempat kita menunggu bel pulang
dan angin sore membawa wangi tinta dari suratmu yang kau titipkan
Kertas berlipat dua,
Biru muda dan setangkai kembang taman
diselipkan diam-diam di bawah buku Bahasa Indonesia.
Tulisanmu kecil, rapi, serapi rambutmu yang sebahu bersama senyum yang tak sempat selesai.
Aku membacanya pelan,
Hanya tak ingin huruf-huruf itu gugur terburu angin.
Atau menutupi degup jantung dan deru yang begitu menggebu.
Membacanya di luar jendela sembari melihat daun jambu bergetar menimpa wajahmu
tenang, penuh rahasia.
Tak ada kata cinta di situ,
hanya nasihat sederhana: belajarlah sungguh-sungguh, jangan lupa sarapan dan juga sapaan
Sepucuk surat kertas biru
Bertinta emas
Berwangi rindu
kusimpan di antara buku catatan tua
berubah kenangan
Berbuah senyuman
setiap kali kubuka
huruf-hurufmu masih berdenyut
menghidupkan kembali seorang gadis, sebuah sekolah, dan cinta yang pernah sederhana