Sil Sila Yusuf
Semesta di Hati Mereka
cicitan burung pagi itu seolah bercerita dengan indah kepada sawah
tentang penerbangan
tentang petualangan
seperti Ramy Sylado pada puisinya di depan cermin
dia melihat rembulan dan suara tertawa
tapi burung pagi itu melihat matahari begitu pongah dan gagah
padi-padi merunduk
aroma pandan menyeruak membalut semesta
daunnya yang sulung menguning perlahan
mengisahkan sebuah perjalanan
dan air susut di akar
seperti kemarau di pulau garam
usianya melampaui panen tembakau
di perkampungan
ladang hijau ditulis dengan puitis
oleh penyair tua yang akrab sekali dengan realita
: Ahmadun Yosi Herfanda
bagai mantra-mantra, sang matahari diolahnya menjadi kembang api
anak-anak tertawa riang
menyaksikan letupan api di udara seperti hati mereka
hingga puisi memilukan
melayangkan sebagian yang dapat dikubur dan dikenang
“aku pasti kembali pada-Mu”
sampai tutup mata
angin semilir turut meramaikan pagi dengan guguran daun yang tiba pula pada tanah
menguning dengan gradasi coklat bagai lukisan anakku si Hammad
sementara pohon kelapa meliuk gemulai
janurnya melambai-lambai mentasbihkan panorama
burung-burung terus bercicit
menikmati pagi dan matahari yang berias cantik
Tuhan, alangkah indah ciptaan -Mu
Sumenep, 151025
**Sil Sila Yusuf **lahir di Sumenep, 1991. Puisinya banyak terbit dalam antologi bersama penyair tanah air. Kisah Orang-Orang Sakit adalah kumpulan puisi pribadi pertamanya.