A.Rahim Eltara

RUMAHKU DI ATAS OMBAK

Senja itu,
bukan angin lembah mengusap wajahku--
melainkan dinginnya napas garam mengembus.
Aku adalah anak pesisir,
pewaris sah sauh dan jala.
Aku tak gentar
memijak ombak bergolak,
meninggalkan muara yang sepi,
mengejar garis pasang yang riuh.
Aku saksikan kekar tubuh ayah
yang tangguh mengayuh.
Aku hafal teduh wajah ibu
yang setia menunggu.
Aku berguru pada camar
yang gigih berburu rezeki.
Aku belajar sabar dari perahu
yang tak meragu dalam badai.
Aku mengaji dari mata jala
yang menjerat tanpa syarat.
Aku suka dengan ombak
yang selalu memeluk akrab.
Rumahku di atas ombak,
perahu tua yang didera alun dan riak.
Bukan vila cendana ukiran. Tapi janji
sederhana ayah pada ibu:
"Aku akan pulang sebelum fajar mekar."
Janji yang meredam risau,
janji yang membangunkan ibu bermunajat.
Di subuh berkabut,
perahuku membuang sauh.
Di atas dermaga,
samar-samar aku menyaksikan senyum Tuhan
dari senyum ibuku.
Sumbawa, 12 Januari 2026