RADAR PANCADAHANA
(26 Maret 1965 - 22 April 2021)
DALAM PERJALANAN hidup, ada persahabatan yang terasa seperti jejak yang tidak pernah hilang meski waktu terus berganti. Persahabatan saya dengan Radar Pancadahana adalah salah satunya. Ia bukan sekadar kawan dalam percakapan, melainkan juga sahabat yang membuka horizon baru tentang cara memandang kebudayaan, manusia, dan nasib bangsa.
Saya mengenalnya sejak ia masih SMP. Saya lebih tua 11 tahun. Ia masih pakai celana pendek. Sudah menulis, dengan nama samaran Rpd Reza Mortavilani. Saya yang menyarankannya untuk menulis dengan nama Radar Pancadahana. Nama yang hebat. Di usia semuda itu, Radar menulis diri saya di harian Kompas. Itu sebuah pencapaian Radar yang masih SMP, tapi sudah mampu menulis untuk harian Kompas! Kemudian ia kuliah di Universitas Indonesia, lalu belajar di Paris, Perancis.
Radar sering beradu debat dengan Randra. Radar adalah budayawan yang memikul kepekaan, ketajaman, dan keberanian. Kata-katanya selalu berlapis, kadang jenaka, kadang getir, namun selalu jernih menyentuh akar kenyataan. Dalam setiap pertemuan, saya merasa sedang diajak untuk membaca ulang kehidupan—bukan dengan mata yang terburu-buru, melainkan dengan pandangan yang dalam, tenang, dan berani berbeda.
Kami bersahabat bukan karena kesamaan profesi semata, melainkan karena kesetiaan pada dunia gagasan. Radar sering mengingatkan bahwa kebudayaan tidak pernah boleh sekedar jadi tontonan. Kebudayaan adalah napas kehidupan, sumber kekuatan, dan ruang perlawanan. Dari mulutnya, saya belajar bahwa seniman tidak bisa hanya menjadi penghibur; ia harus juga menjadi saksi dan pengingat.
Yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana Radar menempatkan persahabatan di atas kepentingan. Ia selalu hadir dengan tulus, tanpa pretensi, tanpa pamrih. Kehadirannya seperti ruang teduh di tengah panasnya perdebatan, atau seperti secangkir kopi di malam panjang diskusi yang tak berkesudahan.
Tahun 2008, ketika Radar sudah menderita gagal ginjal, saya pernah menungguinya cuci darah di RSCM. Saya menangis melihat proses pencucian darah itu. Waktu itu, saya sedang pas punya uang banyak. Waktu Radar di RS, saya bikin acara baca puisi Radar di Ɓulungan. Yang ingin baca harus berdonasi. Ada Rendra, Anto Baret dan banyak lagi lainnya. Saya baca puisi Radar dan mendonasi Rp2 juta. Maklum, saya lagi pas "kaya". Radar sempat agak marah sama saya. Dan saya santai saja. Itu biasa saja. Saya juga pernah melakukannya untuk Mas Teguh Esha. Sewaktu Mas Teguh dirawat di RS Fatmawati. Saya bikin acara di Wapres Bulungan. Bagi saya, sesama seniman dapat berbagi itu terasa membahagiakan.
Kini, ketika usia membawa saya menengok perjalanan yang sudah jauh, saya melihat persahabatan dengan Radar Pancadahana sebagai sebuah anugerah. Ia bukan hanya budayawan yang memberi warna pada kesenian Indonesia, tapi juga sahabat yang meninggalkan jejak dalam hati. Bahwa pada akhirnya, kebudayaan bukan hanya soal karya atau pemikiran, melainkan juga soal pertemuan jiwa-jiwa yang saling menguatkan.***
Hartjah
08102025l
RADAR PANCADAHANA, oleh Harry Tjahjono
Subscribe to Literanesia
Get the latest posts delivered right to your inbox