AGS ARYA DIPAYANA
(29 April 1961 - 1 Maret 2011)

ADA PERSAHABATAN yang tumbuh bukan karena niat mencari teman, melainkan karena ruang, waktu, dan semangat yang sama mempertemukan. Begitulah persahabatan saya dengan Agung Setiadji, yang lebih dikenal dengan nama Ags. Arya Dipayana. Saya memanggilnya Aji. Sejak masa Bulungan, 1979, hingga riumah kontrakan tanpa listrik Puri Mutiara, kami kerap bertemu, berdebat, dan bercakap panjang tentang hidup, seni, dan kata-kata.
Usia saya lebih tua tujuh tahun darinya. Aji adalah sosok yang memikul tiga dunia. Ia penyair yang peka pada getar batin, sutradara dan dramawan sekaligus penulis cerita pendek yang tajam menyorot kenyataan. Kata-katanya lahir seperti pisau yang digosok api, menyala tapi juga mengiris. Namun di balik itu, ia tetap seorang sahabat yang hangat, jenaka, dan mampu membuat percakapan terasa hidup.
Di Bulungan, tempat nongkrong , kami tidak sekadar menjalani rutinitas anak muda yang mencari jati diri, melainkan juga menjadikan sebuah laboratorium gagasan. Kami belajar mengasah keberanian dalam menulis, sekaligus menguji nyali dalam memperjuangkan idealisme. Sementara di Puri Mutiara, di rumah kontrakan tanpa listrik, perbincangan kami lebih sering menjadi semacam tempat persinggahan rohani. Tempat untuk menimbang kembali makna persahabatan, kesenian, dan kehidupan yang terus bergerak.
Persahabatan kami dengan Aji tidak pernah lekang oleh waktu. Kami sama-sama tahu bahwa jalan seniman tidak selalu mulus; seringkali dipenuhi kerikil, keterasingan, bahkan rasa sepi yang panjang. Namun justru di situlah arti persahabatan menemukan kedalaman. Ada telinga yang mau mendengar, ada hati yang bisa memahami, ada tangan yang siap menyalakan petromak ketika gelap datang.
Bagi saya, Ags. Arya Dipayana bukan hanya sahabat, melainkan juga cermin. Saya pernah bertaruh nyawa untuknya. Saya menitikkan air mata ketika Aji wafat dalam usia masih muda, 50 tahun. Ia mengingatkan bahwa menjadi seniman berarti bersetia pada kata-kata, pada idealisme, meski dunia sering menutup telinga. Ia menunjukkan bahwa menulis adalah cara untuk bertahan, untuk tetap hadir, untuk memberi tanda bahwa kita pernah ada.
Kini ketika saya menoleh ke belakang, saya bersyukur pernah berjalan seiring dengan seorang penyair, dramawan sekaligus penulis cerita pendek yang begitu setia pada jalannya. Pada idealismenya. Persahabatan dengan Aji bukan sekadar kenangan, tetapi juga sebuah warisan batin: bahwa dalam hidup yang paling berharga bukanlah gemerlap atau tepuk tangan, melainkan teman seperjalanan yang mengerti arti sunyi, tawa, dan luka.***
Hartjah
07102025