Nanang R. Supriyatin

Pantura! Pantura!
Cinta tak datang sekali. Ia serupa
Angin yang tertanam di setiap cuaca
Bercakap-cakap dalam gelombang laut
Berbisik-bisik dalam sunyi, sesunyi pantai
Bercerita tentang kebebasan ikan-ikan yang
Tak habis-habis beranak dan selalu diburu
Tak akan kau temukan orang-orang tersesat
Pantai adalah rumah kedua bagi nelayan yang
Hidup di antara amis ikan dan lagu badai. Air
Tenang serupa dewa yang menjaga dan
Selalu terjaga
Pantura! Pantura!
Kesejukkan cemara pantai CI
Keunikkan pasir putih pantai karangsong
Pantai legenda sejuta pesona – tirtamaya
Tumpukan beton, pemecah ombak –
O, pantai glayam!
Cintalah yang membawa aku ke sana
Ke jiwa-jiwa yang menanam rindu
Di antara para nelayan, ikan-ikan,
Tongkang dan kapal kayu merapat
*Jakarta, 15 Juli 2025 *

Nanang R. Supriyatin
TUBUH
Yang maha bijaksana, tubuh
Aku pertaruhkan nyawaku
Melalui gerak, serta napasmu
Jika kau kehendaki, o tubuh
Maka sampailah niat Tuhan
Mencabut nyawaku
Jangan benci aku, tubuh
Nanti aku tak dapat mendengar
Nanti telingaku tertutup batu
Biarkan waktu berjalan dalam resah
Biarkan usia tua dan kulit keriput
Asalkan aku tidak tulalit
Bukankah kita sudah bermufakat
Kau bebaskan aku untuk mendengar
Ketakutan demi ketakutan
O tubuh, sudah aku siapkan buku
Serta pena tajam menghujam
Bagi mereka yang siap di rajam
Jakarta, 2023 – 2025