Wahdi Anwar
Pesan dari Masa Depan

Ragaku tiba ketika mesin tik mulai punah,
tapi aku sempat mendengar satu kisah,
tentang sajak yang mengetuk pintu rumah,
lalu berharap bisa menetap dalam sebuah majalah.

Jiwaku mekar bersama layar semu,
tapi ada cerita yang membuatku cemburu,
tentang warung kopi dan panggung bambu,
dimana puisi mampu berdiri tanpa ragu,
meski hanya beratapkan langit pilu.

Indraku tumbuh bersama dunia yang serba cepat,
namun aku tetap salut pada sabarmu yang amat kuat,
yang sering memintal kata di amplop cokelat,
menunggu pos membawa kabar tanpa penat,

Akan kujelajahi jejakmu,
kubawa sisa tinta yang sempat tersapu,
agar ketika kubaca kembali dirimu,
kau mampu kembali pada masamu.

Akan kuantar kau berlabuh,
meski bagiku, dekade itu teramat jauh,
sebab di sana kata yang kau rangkai dengan peluh,
selalu berdiri megah sebagai singgasanamu.

Tenggarong, 14 September 2025

Wahdi Anwar lahir di Tenggarong pada 16 Juni 1996. Sejak 2018, ia mendedikasikan diri sebagai pengajar matematika salah satu lembaga pendidikan non-formal di Samarinda, dan sejak 2020 turut mendampingi para pelajar menapaki jalan menuju perguruan tinggi. Di balik dunia angka yang penuh logika, Wahdi menyimpan ruang luas bagi imajinasi dan menuangkannya dalam puisi, cerpen, novel, serta ilustrasi digital.