/ Menjadi Penyair

Perjalanan mengenal puisi, Maya Ofifa Kristianti

No. 34
Maya Ofifa Kristianti

Perjalanan mengenal puisi

Pada usia 4 tahun, saya sudah lancar membaca , oleh Om diikutkan lomba deklamasi. Entah karena kebetulan atau keberuntungan, saya sering menjuarai sebagai juara favorit. , saya masih ingat ketika lomba baca puisi di Wisma Pancasila waktu itu salah satu jurinya Victor Roesdianto mendekati ibu saya dan berkata, jika beliau berkenan membimbing saya untuk melatih vokal dan membaca puisi dengan baik. Bak disiram air es, orang tua menyambut dengan baik. Naah jadilah saya murid Kak Roes. Jika ada lomba baca puisi, saya berlatih di rumah beliau.. Setelah berada dalam asuhan Kak Roes, saya tak lagi menjadi juara favorit. Juara satu, dua dan tiga seringkali saya dapat. Beberapa kali Kak Roes menawarkan saya untuk bergabung mengisi siaran Kumandang Sastra di RRI, tapi karena kesulitan membagi waktu dengan jadwal sekolah belum juga terlaksana. Baru akhirnya ketika Kumandang Sastra di RRI di pegang oleh mas Drya Widiana, beberapa kali saya sempat mengisi di sana.
Soal menulis puisi? Dudududu.. Saya tidak punya keahlian untuk itu. Pengalaman saya hanya menulis diary dulu waktu di sekolah.. Tulisan puisi saya pertama kali yaa di antologi covid nya mas Bagus . Entah kenapa tiba tiba saya memberanikan diri untuk menulis satu puisi covid.
Sungguh menulis puisi adalah butuh keberanian dan kepercayaan diri penuh,.. Dan saya tak sepenuhnya memiliki itu..
Maka saya bukan penulis.. Saya pembaca dan penikmat puisi.
Saya senang juga bahagia jika ada kesempatan bisa menghadiri acara acara sastra..menikmati pembacaan puisi dari teman teman.. Ahh memori maya kecil membaca puisi di panggung menari nari.. Saya sekarang lebih suka menjadi penikmat, bukan pembaca ..
Sebutan penyair? Waaah itu bukan saya.. Saya pembaca dan penikmat puisi..
Demikian perjalanan saya mengenal puisi.
Terimakasih
Maya ofifa
Ibu rumah tangga yang baik dan benar, tinggal di Semarang

logo-lumbung-puisi-34