Rosmita
MELONGO DI NEGERIKU SENDIRI
Aku memandang fajar dengan penuh harap,
barangkali di sana masih ada
sedikit rezeki
untuk anakku makan siang ini.
Namun matahari naik
tanpa membawa kabar baik.
Harga-harga terus meninggi,
sementara upah kian mengecil
di bawah bayang-bayang janji.
Di negeriku sendiri
aku belajar menjadi penonton,
menyaksikan kemewahan menjulang
di atas keringat
yang tak pernah dihitung.
Mereka berkata negeri ini kaya,
tetapi mengapa piring-piring kami
lebih akrab dengan sunyi
daripada aroma nasi?
Kami tak meminta istana,
tak mendamba singgasana.
Cukuplah dapur tetap menyala,
dan anak-anak terlelap
tanpa memeluk lapar.
Aku masih berdiri
di negeriku sendiri,
memandangnya dengan cinta
yang berkali-kali diuji kenyataan.
Ada begitu banyak luka
yang memilih hening,
hingga doa-doa kami
lebih nyaring daripada suara.
Namun aku percaya,
selama masih ada tangan
yang menengadah kepada-Mu, ya Allah,
harapan tak akan benar-benar padam.
Sebab di atas segala kuasa manusia,
Engkaulah Pemilik langit dan bumi,
yang tak pernah keliru
membagikan rahmat
dan menegakkan keadilan.
*Semarang, Juli 2026 *