**Syafaruddin Marpaung **
Kertas Stensil di Bawah Lampu Neon

Neon mengantuk di atas meja,
lalu aku menyalakan mesin tik.
klik-klak, klik-klak—tek.
pita tinta seperti rel malam,
kata-kata berbaris rapat,
dan waktu merayap, menyusuri jam yang pelan.
Lalu kertas stensil kupeluk hangat,
roneo berputar, berdesir, berdesir,
bau spiritus naik seperti doa,
huruf-huruf menyalin saudara,
“salin, salin,” bisik roller sabar,
dan malam mengecap setiap lembar.
Pagi, aku menuju kios koran;
rubrik budaya mengedip pelan,
lalu amplop cokelat bersiul pendek,
perangko menelan jarak: cetak!
stempel tanggal jatuh—duk, duk,
dan degup kutitipkan di loket.
Siang, aku ke fotokopi kampus;
sinar mesin menyapu naskah,
salin, salin; selinap, selinap,
staples kecil menjahit cuaca,
zine kulipat seperti rahasia,
dan trotoar menyimpan samudra langkah.
Kini aku menoleh ke belakang;
neon masih koma, lama-lama,
klik-klak tetap hidup di telinga murid,
maka: ulang, ulang, panggil kata,
benda-benda ikut membaca kita,
dan puisi 80-an menjadi kompas yang tak letih.