Ning Sutarya
KENANGAN DI JALAN C. SIMANJUNTAK
(Bagi Penyair Bambang Widiatmoko)
Ada masa ketika kata-kata terbit
seperti embun yang menahan diri agar tidak jatuh,
bergantung pada tepi kelopak hari yang rapuh.
Jalan C. Simanjuntak,
di sanalah waktu pernah menumbuhkan cahaya
dari serpih kertas yang di genggam
seperti memegang denyut rahasia Tuhan.
Perihal menulis bukan sekedar untuk dibaca,
melainkan untuk menampung suara-suara
yang tak sanggup ditampung mulut dan pikiran sendiri
suara riuh yang tumbuh dari sunyi,
suara sunyi yang hidup dalam riuh.
Senja menyala bagai bara yang tenang,
lampu-lampu toko berkedip
seperti mata yang menahan tangis.
Dan kami
adalah sepasang bayang yang berjalan panjang
di trotoar sempit yang menua oleh kenangan
yang tak pernah benar-benar selesai.
Asap rokok dan knalpot melilit angin,
menjelma huruf-huruf yang patah di udara.
Kami membaca puisi seperti berdoa,
bukan memuja kata,
tapi memuja luka yang menghidupkan kata-kata itu.
Di kursi kayu tua yang menggigil oleh waktu,
tinta menetes pelan
seperti darah dari sayatan ingatan yang dalam.
Dan setiap huruf
adalah jendela yang kami buka
agar masa depan tahu
bahwa kami pernah ada
pernah menelusuri jalan bersama,
pernah percaya
bahwa dunia bisa disembuhkan oleh sebuah bait.
Tahun-tahun itu kini hanya debu yang lembut,
menari di jendela pagi ketika mata belum sepenuhnya bangun.
Namun ketika nama itu kusebut
C Simanjuntak…
ada pintu kecil dalam dada yang terbuka kembali,
membiarkan aroma kopi, hujan, dan percakapan lirih
menyelinap masuk seperti cahaya yang kembali mencari rumah.
Untukmu, Bambang Widiatmoko
kau yang menulis langit dalam sekepal sunyi,
kau yang menyembunyikan mimpi
di bawah napas kata yang sengaja diperlambat.
Di jalan itu,
kita pernah percaya
bahwa puisi bukan sekadar tulisan,
melainkan cara waktu menjaga dirinya
agar tak hilang begitu saja.
Batam, 28102025