Dhenok Kristianti
Boneka

Boneka itu menggeliat memanusia!
Rasa sakit di dada mengakhiri kebonekaannya
Sejak ia rela sebagai boneka, ia padamkan semua rasa
:sakit-sehat, susah-senang, dingin-hangat,
kecewa-puas, derita-bahagia, benci-cinta;
tak boleh ada dalam dirinya yang boneka

Dini hari, Tiba-tiba perih menerjang dada,
Menjalar ke kepala hingga ujung kaki
Serenta tangannya bergerak ke pusat rasa
Sebutir batu menancap, ia tahu siapa yang menghunjamkannya
Batu itu sisa mainan si pemilik boneka di masa kanak

Dalam kesakitan ia takjub kembali memanusia
Bisa meraba, bebas bergerak, dan ia bicara semaunya
Ia coba tertawa. Bisa! Ia coba menangis. Bisa!
Sesalnya, kenapa harus sakit mengakhiri
Kebonekaannya?
Kenapa bukan kehangatan atau keindahan cinta?

Si Boneka yang tak lagi boneka tegap berdiri
Ia tumpahkan kesal dan marahnya pada ang pemilik
Pemilik yang telah membonekakannya,
tapi tega melepmparkan batu untuk menyakitinya
:Sekarag aku bukan boneka,
mainan yang cuma menunggu kau main-mainkan!
Si pemilik terduduk dengan paras memelas
Lunglai bagai pejuang kalah perang, ia bergumam
:Mengapa kau robohkan Rumah Boneka?
Pesta belum usai,
Mari kembali menari Tarantella!

Boneka yang tak lagi boneka memilin bibir
Kemerdekaan alangkah mahal harganya
Berpuluh tahun ia rela merupa boneka
tabu berkehendak,
dimainkan hanya dikala senggang
dan sering dibiarkan kedinginan di gudang

Diusapnya kepala sang pemilik, ujarnya parau
:Sekian lama kurelakan cinta mengakali,
Mengakaliku sepanjang usia!
Saatnya berbalik melawan arah jarum jam,
sebab tari Tarantella telah tiba di puncak irama!

Dhenok Kristianti, lahir di Yogyakarta, 25 Januari 1961. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di media massa, seperti Sinar Harapan, Berita Nasional, Minggu Pagi, Basis, dan Suara Karya. Beberapa puisinya juga menyemarakkan antologi puisi Penyair 3 Generasi, Menjaring Kaki Langit, Tugu, Tonggak 4, Akulah Musi, dan Sauk Saloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI).