Endut Ahadiat
BERTAHAN HIDUP DALAM MIMPI
Di subuh minggu, ia menunggu koran datang
di depan kios kecil dekat terminal tua.
Angin membawa aroma tinta dan roti hangat,
sementara dadanya penuh degup dan harap.
Apakah namanya tercetak hari ini?
Apakah puisinya menembus halaman sastra itu?
Jika iya, sebentar lagi wesel pos akan tiba—
honor kecil, tapi cukup untuk kopi dan rokok seminggu.
Ia tersenyum membayangkan sore nanti,
nongkrong di Taman Budaya bersama kawan seperjuangan:
membahas Chairil, mencencang politik,
menertawakan hidup yang serba pas-pasan tapi penuh kata.
Tak ada gawai, tak ada layar terang—
hanya koran, pena, dan keyakinan
bahwa menjadi penyair adalah cara paling jujur
untuk bertahan hidup dalam mimpi.
Dan ketika puisinya benar-benar dimuat,
ia lipat koran itu dengan hati-hati,
seperti menyimpan sepucuk surat cinta
dari masa depan yang belum tentu lebih baik,
tapi tetap layak ditunggu.
Padang, Oktober 2025
***Endut Ahadiat *lahir di Bandung, 14 November. Ia berdomisili di Kota Padang. Aktif menulis puisi dan baca puisi diberbagai kota di Indonesia. Karya Puisinya Bung (1985); Akulah Darah yang Mengalir di Nadimu (2024); Puisinya termuat dalam banyak Antologi Puisi Bersama.