Yohanes Moeljadi Pranata

BADUT

Badut juga manusia.
Ia merajut tawa, menyulam gembira, di atas panggung yang menuntut riang. Namun di balik topeng warna-warni yang melekat, ada duka yang tak sempat berucap, ada lara yang kehilangan tempat.
Sebab tidak semua senyum adalah tanda bahagia, dan tidak setiap luka ingin dibaca dunia. Hanya hati yang dibasuh kasih yang mampu menembus rias tebal itu; melihat perih di balik tawa, lalu dengan tulus membebatnya, atau sekadar melangitkan doa dalam hening.
Kopernya adalah misteri. Mungkin isinya mantra-mantra pengusir sepi bagi kita, atau mungkin beban yang teramat berat -- kumpulan air mata yang ia simpan sendiri, yang kita, dalam sorak-sorai, tak pernah menyadarinya.
Ia melangkah turun saat tepuk tangan membahana, meninggalkan gema sorak yang perlahan sirna. Lalu pulang dengan langkah limbung, di bawah langit batin yang mulai luruh hujan.
Dan akhirnya, di kamar batin yang paling sunyi, aku tertegun menatap cermin. Di sanalah kutemukan kejujuran itu: bahwa badut yang sunyi itu, adalah aku.
YMP
Blessings, 26 Maret 2026