Sur Yadi
ROKOK DAN AKU
demi bara tembakau yang berasap membakar belenggu inspirasi
merayap sepanjang malam gelap
mencari definisiku yang mungkin tercecer dihatimu
kemudian sepiku
terdampar dipinggir fajar
saat simponi pagi mulai mengalun merobek rindu perawan
butiran embun berjatuhan
menimpa kering dedaunan
kemerisiknya terurai hanyut
merambah gempita nyanyian alam
meliuk diantara kepulan asap
menyelinap dan kau terbatuk-batuk
mencari arti pada secangkir kopi
wahai jiwa kelana
tidakkah kau nikmati
aroma tembakau sepuntung rokok
yang candunya diserap darah dan benalunya menjalar melilit paru
dari jarinya keluar tentakel gurita menghisap jaringan tubuhmu
mencekik nafas hingga sesak didada
lalu kau menari tari kematian
diatas tumpukan jutaan puntung rokok
tanpa lagi dapat menikmati cinta ketika hutan jati gelisah
berharap sangat padamu mencumbunya
melampiaskan desah yang berpeluh
saat riak telaga bergelombang diterkam burung camar
tajam menukik kepermukaan menyambar tanya yang berenang
mencari jawaban
akankah cintamu tergadai pada asap tembakau ?
membiarkan hisapan panjang
merampas kesetiaan
menjajah ketulusan
menghanguskan kemesraan
membakar kasih yang kau miliki
lalu kau mati ditengah kepulannya
ya !!!
aku berteriak ya !!!
ini bukan puntung terakhirku
puntung yang selalu datang
dengan imajinasi
akan tetap kunikmati sampai mati.
(Kulonprogo, maret 2026)