Sholihul Mubarok

PURWAWACANA

Kelopak bungamu kuncup sebelum senja di mataku meredup. Bayangan digelar, dan sunyi dinyalakan.
Berdesis angin. Mengais sisa ingin yang masih remahan kecil, sisa musim gugur kemarin. Dingin menjadi pelukan asing. Sebelum perih, beralih di antara kerumitan letih.
Dari lentik jemarimu, sajak-sajak lahir secara prematur. Tak ayal, puluhan cerita sebatas citra dari frasa-frasa tanpa nyawa. Tanpa aku juga kau dalam satu denyut di dada malam yang masih tegak.
Barangkali lusinan andai terlalu klise. Sebab puisi adalah rahim yang melahirkan biji-bijian kosakata wajah melampaui masa.
"Sebab percuma saja ribuan kata dikerahkan jika hanya untuk menjahit luka yang sebenarnya sudah mati. Aku lebih memilih diam yang paling panjang daripada harus mengeja kalimat-kalimat yang lahir dari keterpaksaan tanpa ada kita di dalamnya. Di sini, biarlah waktu yang menjadi saringan; yang palsu akan lumat, dan yang jujur akan terus berdenyut meski tanpa nama, meski hanya setitik benih yang keras kepala."
Gresik, 27 Maret 2026