Aku Menjamur
Aku menjamur di musim yang basah oleh diksi merdeka.
Dari retak trotoar, dari warung kopi yang mengepul, dari layar gawai yang tak pernah tidur, puisi tumbuh berdesakan.
Konon, kami anak-cucu Chairil.
Menggendong ransel berisi metafora, mengunyah sunyi sebelum menjelma larik, lalu percaya setiap patah hati layak dijadikan puisi.
Kami menjamur.
Sebanyak titik hujan yang mengetuk genting negeri ini.
Setiap hari lahir penyair baru, membawa luka, cinta, amarah, dan sepotong langit ke dalam buku-buku tipis.
Ada yang mengaum seperti angin, ada yang berbisik serupa embun.
Ada yang mengejar keabadian, ada yang sekadar ingin didengar, namun sembunyi di balik lentera.
Semuanya menanam kata di ladang bahasa.
Namun jamur tak selalu berarti buruk. Ia pertanda musim telah subur.
Bahwa tanah sastra masih menyimpan harapan, masih ada tangan yang ingin menulis, masih ada mata yang rela membaca.
Biarlah kami menjamur.
Bukan untuk menjadi Chairil kedua, sebab matahari tak pernah lahir dua kali.
Cukuplah kami menjadi musim yang membuktikan: puisi belum mati.
Dan jika suatu hari orang bertanya dari mana semua ini bermula, angin akan menjawab lirih:
"Dari seorang penyair yang mengajari kata-kata cara menantang maut, lalu ribuan orang memilih melanjutkan nyalanya."