Septiannor Wiranata
Abadi Dalam Karya

Nama-nama itu tinggal pusara
Namun mereka abadi sebagai seporsi rangkaian kata
Berbahan baku rasa
Berbumbu racikan air mata
Beraneka aroma peristiwa mengudara
Hiruk-pikuk terekam, jerit dan perlawanan tak pernah padam
Cinta, kasih sayang, peringatan hingga dendam
Oleh karya, mereka tak pupus oleh zaman.

Sapardi Djoko Damono,
Dalam sajak ia tabur Hujan Bulan Juni
Kami baca pada musim kemarau
Deras kata-katanya tetap membasahi
Seolah ada berbisik dia disamping kami

Wiji Thukul,
Dalam bait-bait puitis ia menjadi nyala
Peringatan waspada bagi pejabat durjana,
Suaranya tak tenggelam meski tubuhnya telah hilang,
Ia adalah deru yang memburu
Serupa cemburu yang murka
Suara nya bak senapan senjata

W.S. Rendra, sang burung merak
Dengan teater dan puisinya
Mengetuk hingga mendobrak
Menjajah ragu dalam benak
Lantang melafal teriak
Pada "Sajak sebatang Lisong" Aku menatap sang merak berucap

Joko Pinurbo,
Kami saksikan karya nya
Ia merangkai kata menjadi mantra,
Meramu puisi bukan sekedar di baca
Melainkan renungan panjang menjelma do'a
Membisikkan hibur yang damai
Menawarkan rasa yang berbeda
Serta gelitik di tengah ramai rumit kehidupan kita

...
Kami menghela jeda panjang
Menerka pojok langit tempat mereka melirik
"Seporsi kata tersuguh sarat nasihat"
"Lantun berisik mengusik hati yang enggan berbisik"
Ah, mereka sekarang bisa apa?
Atau kami sekarang harus apa?
Terlintas potong bait sajak chairil anwar.
"Aku ingin hidup seribu tahun lagi"
...
Kotabaru, 7 September 2025

Septiannor Wiranata, 20 September 1998 kotabaru, kalimantan selatan.
Aktif tergabung di komunitas taman sastra puisi nya dimuat dalam antologi bersama Membumikan Langit - Tadarus Puisi dan Silaturahmi Sastra Banjarbaru 2018, Indonesia Lucu (2018), Sedekah Puisi (2018), Negeri Tanpa Korupsi (2018), dan Semerbak Hutan Seharum Ombak- Antologi Puisi ASKS XVI Tanah Bumbu (2019).