Agus Budi Wahyudi
Yuyu Rumpung
Wilayah Kadipaten Paranggaruda di Pantai Utara Jawa
Adipati Carangsoko punya kuasa atas putri jelitanya
Putri Dewi Ruyung Wulan dipaksa kawin dengan jejaka
Cacat raga, buruk rupa, R. Jaseri (Menak Jasari) namanya
Hajat kawin mau terlaksana
Tiada pandu cinta di lini hati Putri Dewi
Putri jelita semata wayang sedih hati
Lalu siasat putri jelita aju-pinta syarat
Pesta kawin ada gelaran wayang
Siasat ulur-waktu terturuti
Tiada pandu cinta di lini hati Putri Dewi
Hidup berumah tangga wajib pandu cinta
Dalang Ki Soponyono ditunjuknya
Hebat gelaran pesta, kian sedih Putri Dewi
Pesta meriah gegap gempita ria
Racikan cerita aura sedih, rintih, tersayat-sayat hati
Ki Dalang ladeni aju-pinta putri jelita
Cerita tak wajar di akhir cerita tanpa pandu cinta hidup itu hampa
Cerita beraura rintihan Putri Dewi yang menggema
Tanda tolak kawin paksa ala adat Jawa
Ambarsari dan Ambarwati nan catik rupa waranggana Swarawati
Biar putri sudi duduk di singgasana
Protes meledak di arena pesta kawin
Di tengah R. Jaseri hatinya berbunga-bunga bersanding dengan putri jelita
Terbius aura putri jelita tak tahan hasrat lelakinya
Tangannya jahil mencolek pipi putri jelita
Suasana beraura nafsu Putri Dewi menolak hasrat buas calon suaminya
Putri Dewi lari dari pelaminan jatuhkan raga-lunaknya di pangkauan Ki Dalang
Karena hanyut terpesona, jatuh cinta kepada Ki Dalang
Yang wajahnya tampan dan punya pandu cinta
“Kakang bawalah putri lari, bila tidak putri mau mati saja,” pinta manja putri jelita
Terkesima tetamu dan Ki Dalang gugup mendengarnya
Aji kesaktian padam lampu-lampu yang nyala
Keadaan gelap-gulita, panik perjamuan
Ki Dalang Saponyono diikuti Ambasari, Ambarwati, dan Dewi Ruyung Wulan melarikan diri.
Saat gelap terjadi
Adipati Carangsoko Puspo Handung Joyo marah besar, “Patih Singopadu! Atasi keadaan!
Cepat nyalakan lampu-lampu!” Lampu menyala, Raden Jaseri lilung calon istrinya raib, menghilang
Prajurit mengejarnya, menyebar, memasuki, menggeledak rumah-rumah
Prajurit taat jalani perintah, tangkap hidup atau mati Ki Dalang
Hinaan Ki Dalang menusuk kewibawaannya
Lari, lari, dan lari, ikuti alir sungai, masuk hutan ke luar hutan rimba
Putri Dewi Ruyung Wulan menanggalkan pakaian kebesaran
Bertukar baju, menyamar diri serupa rakyat jelata
Kisah di Dukuh Bantengan (Trangkil) wilayah Panewon Majasemi.
Panas, terik sang surya, rasa haus meraja
Amat tersiksa raga, mata air kering
Ki Dalang dan tiga putri jelita tak tahan lagi
Rasa haus tak tertahankan lagi
Di sebuah sawah yang sunyi tidak ada sumur
Sungai kering kerontang sempurna
Ki Sapanyono bingung hatinya
Meminta air kepada warga tidak berani, takut bertemu prajurit yang mengejarnya.
Maka ia mencuri semangka dan mentimun yang ada
Raden Kembangjoyp memindai gerak-geriknya
Perusak sawah bukan satwa, namun manusia semata
“Ternyata selama ini yang merusak kamu!”
“Ya, kamu maling!” seru Kembang Joyo
Keluarlah Dewi Ruyung Wulan beserta Ambarsari dan Ambarwati, “Lepaskan ia, yang kamu buru itu aku.“ Mengira orang sakti ini Prajurit Paranggarudo ynng mengejarnya.
Kembang Joyo heran malingnya membawa tiga gadis jelita
Ia tetap manahan kemudian dihadapkan kepada Penewu Sukmoyono
Ki Soponyono menceritakan kejadian sebelumnya dikejar pasukan Paranggarudo
Terpaksa mencuri semangka dan mentimun karena haus dan lapar.
Penewu Sukmayono merasa iba dan tidak menghukumnya
Menampung dan melindungi mereka
Balas kasih, Ambarsari dan Ambarwati dipersembahkan kepada Penewu Sukmoyono sebagai hamba
Persembahan diterima Ambarsari jadi selir Sukmojoyo
Ambarwati dijadikn istri adiknya, R. Kembangjoyo
Putri Dewi Ruyung Wulan dikembalikan kepada Adipati Carangsoko, Puspo Handung Joyo.
Yuyu Rumpung namanya, dari Kemaguhan, anak buah Paranggarudo tahu rahasia
Keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigoro pusaka hebat Panewu Sukmoyono.
Yuyu Rumpung memerintahkan Sondong Majeruk mencurinya
Laku buruk diketahui Sondong Makerti
Perkelahian terjadi Sondong Majeruk disuduk mati
Yuyu Rumpung murka dan menyerbu Majasemi
Bersekutu dengan Pasukan Yudhopati yang dipimpin patih Singopati
Prajurit Paranggarudo sampailah di Majasemi
Betapa marahnya Adipati Yudhopati
Buronan berada di Majasemi, dilindungi oleh Penewu Sukmayono.
Pertempuran berkobar, Ki Penewu Sukmoyono mati
Mendengar berita itu Raden Kembangjoyo mengamuk
menghunus keris Rambut Pinutung dan kuluk Kanigoro
menghancurkan Pasukan Paranggarudo
Patih Singopati mati, Patih Singopadu mati
Pertempuran menelan korban di Majasemi
Ki Dalang Saponyono terima kasih Putri Dewi
diberikan kepada Raden Kembangjoyo untuk diperistri
Kembangjoyo sebagai pengganti Puspo Handungjoyo memimpin di Kadipaten Pati
Wilayah pasti gabungan kadipaten Paranggarudo, Carangsoko dan Majasemi
Hutan Kemiri dihuni Singa, Gajah dan binatang buas lainnya, serta para siluman
Dijadikan wilayah luas, Kadipaten Pati
Kesaktian Kembangjoyo tak tertandingi para siluman di Hutam Kemiri menyerah.
Esok hari Hutan Kemiri jadi kampung
Raden Kembang Joyo terispirasi jejak lelaki, Ki Sagola pemikul gentong .
“Berhenti kisanak! Siapa kamu dan apa ini?”
“Saya Ki Sagola, gentong ini berisi dawet. Aku biasa lewat sini.”
“Dawet itu minuman apa?, coba buatkan saya juga untuk prajuritku!”
Raden Kembangjoyo terkesan rasa manis dawet segar
Ia menikmati Dawet manis terbuat dari Pati Aren yang bersantan kelapa, gula aren/kelapa
Kelak hari-berhari wilayah diberi nama Kadipaten Pati-Pesantrenan
Rakyat makmur gemah ripah loh jinawi di tangannya.
29 Desember 2021
Agus Budi Wahyudi, adalah penyair yang tinggal di Pati jawea Tengah.