Agustri Kurniawan

Malin Kundang
bag. 1

Awal dan akhir kehidupan seorang anak manusia, tiada yang bisa menduga.
seperti lautan yang terhampar disebelah barat pulau Sumatera,

Ungkapan pujangga; Tinggi gunung, seribu janji, lain dibibir lain dihati, mengiringi akhir langkahnya.

Tak bisa dipungkiri, kasih ibu pada si buah hati, selalu tulus tiada terperi.

Demi sang anak, bunda rela menantang rimba bersabung nyawa, memeras keringat memungut kayu api, membuat penganan untuk mendapatkan uang dua-tiga ataupun setali, agar segala kebutuhan bisa terpenuhi.

Hidup yatim dan miskin didalam nagari adalah aib besar bagi diri, rasa iba pada orangtua, merantaulah bujang, mengadu nasib langlang buana.
Untung badan, hasil jerihpayah bersua, diangkat anak, menjadi menantu saudagar kayaraya.

Tekad merantau saat bermula, untuk membahagiakan ibu, jadi terlupa, hidup layaknya diistana, istri cantik jelita, membuat buta.
Dikampung, ibu hidup papa, tiap hari menganyam kerinduan berlinang airmata.

Tahun demi tahun berlalu, menunggu..,
kabar berita tiada menyapa, hati selalu diiris rindu, nasi dimakan bak sembilu, air diminum serupa empedu.

Tak hiraukan badan, kurus dirajah penderitaan, tak berharap bantuan atau kiriman sebentuk harta maupun uang, cukuplah anak bisa kembali kepangkuan.

Menimang kenang, malin terbayang, hilirmudik tanya dalam keranjang, kemanapun pergi selalu dikundang.

Kemana risau hendak dibawa, sengsara raga menyeberang padang, dendang jiwa mengalir ke muara.
Terhenyak sesampai disana, orang ramai begitu rupa, didermaga kapal besar lempar jangkar labuhkan bahagia.

Nahkoda turun bagaikan raja, berpakaian sutera bertenun emas dan permata, disamping istri tersenyum bangga.

Bisik-bisik terdengar, benar Malin Kundang nama si nahkoda, hati si ibu berbunga-bunga risaupun sirna, ingin langsung memeluk anak tercinta.

Gemuruh didada, mengalir segala kecamuk rasa, parau suara menghalau ragu serta rasa tak percaya, ditatap muka, membathin gumam, memang dia si tongga lah adanya.

"Malin.., malin anakku..!, ini mande.., mande mu nak."

Terkejutlah malin.., melihat wanita renta berbaju kurung bersulam tambal, berkain lusuh warnanya pun pudar.

Nanar menatap si wanita tua, nyata ibu kandungnya.
Walau telah bersuluh matahari, bergelanggang dimata orang rami.
Perbedaaan seperti langit dan bumi, menumbuhkan risih, meninggikan hati.

Dulu malu karena miskin dan sengsara, kini malu mengakui orangtua, didepan istri serta orang sekampung ia berkata:

"Siapakah kau gerangan, hai wanita tua?, tak berpunya malu mengaku sebagai ibuku?!."

"Aku tak merasa mempunyai ibu seperti dirimu..!"

Malin Kundang
bag. 2

Sesiang terik itu petir menyambar, merobek jantung, hati dan telinga.
Kasihsayang seketika luruh dari sekujur tubuhnya.
Perih dan nestapa membuncah, darah kembali seperti menetes dirahim dan dada, air susu dibalas tuba, ulah kejayaan dan harta, tak mengira anak kan mendurhakainya.

Meski tak diakui, Naluri seorang ibu takkan berdusta, menyemai do'a, harapan dan mimpi pagi dan petang, meniupkan pelipur lara diubun darahdagingnya, tatkala malam menjelang.

Peluk-cium setiap hari, menyuapi dan menyusui, dari ujung rambut sampai ujung kaki, tentu takkan lupa tanda dan ciri.

Dengan sisa asa dan rindu, ia kumpulkan kembali tenaga..

"Malin anakku.., denai Rubayah mande kandung mu..!"

"Peluklah mande nak.."

Si malin dengan angkuh dan pongah, tetap berkata:

"Pergilah dari hadapan ku, berulang kukatakan, aku bukan anakmu.., aku tak punya ibu seperti dirimu..!"

Menanggung malu beranjaklah ia, tak lagi berkata-kata, hancur hatinya mengulam do'a, bahtera kembali ke berlayar,
Remuk-redam dipulangkan ke haribaan, tengadah tangan,
Bergeduru mendung diawan.

Sumpah menjadi mantra, anginnya gelorakan samudera , patahkan tiang, pecahkan karang, malin dan bahtera.
Merubah mungkin jadi niscaya..

Si ibu tinggal menenun isak dan sedu, penyesalan tiada berlaku.
Dipantai airmanis nan elok, rindu si ibu tlah jadi batu.
An-Reflection, 22122021

Agustri Kurniawan, adalah seorang penyair yang tingal di Padang Sumatra Barat.