Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi

**Kelana Sakti dan Bilad Purnama **

Arkian bilad Purnama bertahta Indra Sakti yang bijaksana
mengayomi dan memerintah rakyatnya dengan qanun yang adil
hingga rakyatnya mereguk sejahtera, aman, dan bahagia
Dan suatu hari, sang raja sakit parah
badannya semakin menyusut seperti sabit di langit
dan wajahnya muram seperti siang yang hilang bagaskara
hingga semua tabib terdiam di sudut-sudut istana dan tidak sanggup menyembuhkannya
Sang raja semakin lemah seperti kincir tanpa air dan angin
Penghuni istana semakin gelisah
merasakan bayang-bayangan malakul maut tertawa di gerbang dan taman sari
mempersiapkan kereta gendosa dan kain putih yang mengelukan lidah
Sang raja menitah dengan suara yang semakin nyeri
mengumpulkan seluruh keluarganya dan Badau sang menteri istana
“O permaisuriku yang kamil seperti badar
maafkan semua khilafku yang bersendura dalam pelukan waktu saat bersamamu
Ajalku semakin mendekat dan lembaran ikrar usiaku sedang terbakar di bawah takdir
Daku berwasiat padamu
asuhlah putra kita yang menjelma dari cinta
Jadikan raja saat dia dewasa di atas tahtaku yang bertatah manikam dan kencana surya”
demikian sabda sang raja pada permaisurinya
“O Badau
daku mempercayakan bilad Purnama yang mahrusah ini padamu
Kaulah sebagai perwalianku untuk sementara bertahta
sebelum puteraku dewasa
Ajari dia dengan wejangan ilmu para waskita
hingga dia menjadi raja yang baik dalam membaca peta dan arah”
demikian sabda sang raja pada menterinya
Sang raja tersenyum dan memejamkan mata
lalu menghembuskan nafas terakhir di bawah belaian malakul maut
terbujur kaku dan pias
diam dalam keabadian
menyapa bilad Purnama dalam duka yang nyeri
Seusai sang raja dimakamkan di taman duka istana
yang diapit lembah surya kencana kahyangan
Maka bertahtalah Badau sebagai raja yang ingkar janji
mengabaikan dan merampas harta rakyat
Memerintahkan prajuritnya mendatangi semua rumah rakyat
menagih pajak dan merampas harta dengan nafsu yang dholim
hingga bilad Purnama berantakan
“Berikan uangmu!
Kau harus membayar pajak!”
demikian bentak sang prajurit pada sang ayah Kelana Sakti
“Maafkan daku, tuan!
Daku tidak punya cukup uang.
Karena sudah habis untuk beli makan”
demikian jawab sang ayah Kelana Sakti
menangis dan ketakutan
“Kau pembohong!
Orang yang menolak membayar pajak dikirim ke penjara!”
demikian bentak sang prajurit
dan menyeret sang ayah Kelana Sakti ke istana
“Ampun tuan!
Jangan bawa ayahku!”
demikian Kelana Sakti memohon dengan iba pada sang prajurit itu
Tapi seorang prajurit yang lain dengan sangat kejam memarahi dan menendangnya
hingga perutnya nyeri dan akhirnya pingsan
“Dimana daku?
Dimana ayahku?”
demikian tanya Kelana Sakti seusai siuman
dan dia bingung karena berada di dalam rumah sang kakek renta yang tidak dikenalnya
“Jangan khawatir cucu...
Kau berada di rumahku dan aman di sini
Ayahmu ada di istana Purnama
Badau yang durja mengirimnya dalam penjara”
demikian jawab sang kakek renta penolong itu dengan lembut
Arkian sejak itu, Kelana Sakti tinggal bersama sang kakek renta
belajar kebijaksanaan dan silat
hingga menguasai semuanya dan termasyhur di semesta bilad Purnama
“Sekarang sudah waktunya untuk membebaskan ayahmu”
demikian sang kakek renta itu memberikan titah pada Kelana Sakti
Dia berangkat ke istana dengan diiringi wejangan, doa, dan berkah
lalu saat tiba di alun-alun, dia disergap para prajurit
Terjadilah pertempuran yang sengit dan tidak seimbang
hingga akhirnya berhadapan dan melawan Badau yang ingkar
Kelana Sakti mengamuk seperti macan yang terbunuh anaknya
mengaum hingga bumi lindu dalam kecamuk api dan guntur di bawah bayang pedang
menubruk Badau yang angkuh dan mengirimkannya dalam jeruji besi
Sang pangeran sangat berterima kasih kepada Kelana Sakti
karena telah menumpas angkara di bilad Purnama yang mahrusah
membebaskan semua orang dari tirani
O Kelana Sakti yang membebaskan bilad poyangmu dari angkara
aku cemburu saat mendengar legendamu yang membela orang-orang tertindas
dan melawan tirani
Bireuen, 29 Desember 2021

Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi. Lahir pada 8 September 1983 di Perlak, Aceh Timur dan tinggal di Ponpes Nidaul Islam, Peusangan Selatan, Bireuen, Provinsi Aceh. Penyair yang akrab dipanggil Kang Abid atau Mas Abi ini dimasa kecilnya bernama Goelsani Razz Al-Ba'arifi adalah pendiri, pengasuh, dan pengajar Majlis Jambo Stress. Belajar menulis secara otodidak melalui buku-buku yang selalu dibelikan oleh orangtuanya setiap hari. Juga dari berbagai buku yang dibelinya sendiri dan temannya. Puisi-puisinya termuat dalam beberapa antologi bersama melalui Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia dibawah asuhan penulis dan sastrawan ternama Indonesia Rg Bagus Warsono. Rg Bagus Warsono merupakan salah satu tokoh kunci yang selalu memberi berbagai tips dan motivasi padanya dalam dunia sastra.