Abede

Sukorejo

jika engkau ke ujung timur pulau Jawa
menyusuri tepian Selat Madura
maka ucapkanlah salam penuh dahaga
"Assalamu 'alaikum wahai para kekasih
Sang Maha Kasih"

Sukorejo namanya
belantara yang dulu gulita
menjelma menara
bercahaya sejuk di dada

duduklah simpuh memutar tasbih
tataplah mushaf suara lirih
tengadah tangan tundukkan hati
"duh Gusti
dengan wasilah para kekasih,"

sampaikanlah hajatmu
utarakan niatmu

sambung hatimu pada Kiai Syamsul
yang bertapa bertahun-tahun
dan pantang pejamkan mata
hingga surya menyapa
demi keberkahan ilmu dan pencarinya

sambung pula hatimu pada Kiai As'ad
sang ksatria hebat
penunggang kuda putih
yang gagah berani,
namanya agung semerbak harum
di langit dan di bumi

sambung pula hatimu pada Kiai Fawaid
yang bibirnya selalu dibasahi al-Qur'an sebagai wirid

di tanah ini
dahulu bom penjajah jadi semangka
di tanah ini
dahulu para pejuang mengaji dan gerilya

Sukorejo namanya
tanah yang jadi saksi sejarah
bersatunya nusantara
di bawah payung Pancasila

Abede, 100122, 01.35
Abede Mujib, lahir di Banyuwangi, 140486, tinggal di Situbondo Jawa Timur. Salah satu peserta Muktamar Sastra 2018 di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Beberapa karyanya: Antologi Puisi Sang Aku (2009), Ramadan Terburuk dan Terindah Bagiku (2012), Sang Kiai (2014) serta Antologi Puisi, Pusaka, Haiku dan Tanka: Shalawat Habibah (2020). Beberapa Buku Antologi Puisi Bersama: Tadarus Airmata; Teater Air (2005), Antologi Cerpen Biru di Mataku (2008), Antologi Puisi Muara (2009), Kitab 99 Puisi Tasbih Hijau Bumi, Lesbumi NU Jawa Timur (2014), Antologi Puisi untuk Sukorejo Wasiat Debu (2015), Pucuk-Pucuk Ilalang (2019), The First (2019), Sajak Rindu, Aku dan Hujan (2019), Sajadah; HSBI Medan (2019), serta 1000 Haiku Indonesia Musim Ke-5 (2019)