𝘓𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘙𝘦𝘬𝘴𝘢
MUSIM YANG DIBAKAR
Kemarau datang tanpa mengetuk,
tanah merekah,
parit mengeras,
daun menggulung di dahan.
Lalu api menyala di semak—
satu batang korek,
satu tangan,
satu langkah menjauh.
Angin membawa nyala
dari rumput ke pohon.
Burung meninggalkan sarang,
rusa menembus asap,
sungai menghitam membawa abu.
Kami berdiri di batas kebun,
menutup hidung dengan baju.
Daun singkong hangus,
batang karet mengering,
hutan retak dalam suara bara.
Pagi tinggal asap.
Di antara arang,
sebutir telur burung
masih utuh.
Di jalan tanah,
bekas sandal mengarah keluar.
Kemarau akan berlalu.
Jejaknya tidak.
Banjarmasin, 6 September 2026