Silivester Kiik
Gurat Kemarau di Wajahmu
Resah-resah dedaunan nyanyi akar yang patah
terkulai lemah di pucuk batu
menjala angin di tanah keramat
seraya memeram resahβmemamah perih
jemu melukis sunyi ke liang kelam
bagai dupa menyusut asap
ke dalam sesaji okomama.
Reranting kering luka ditikam terik
gigil pecah ketika tubuh embun lenyap dipelukan
melawan takdir yang telah pupus
seperti gurat kemarau
yang kubaca diwajahmu
di antara getar telapak tangan
dan segala rindu yang terkapar.
Masihkah ada beberapa hijau dedaunan
yang tabah menyapa kicau burung
sambil menanti senja
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
dengan wajah penuh tanya
tertunduk layu
tiada sembahyang
tiada air mata.
AtambuaβTimor, 6 September 2026